Maestro Dongeng Bali I Made Taro Berpulang

  • 24 Jul 2026 09:53 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Dunia seni dan budaya Bali kembali kehilangan salah satu tokoh besar. Maestro dongeng Bali, I Made Taro, mengembuskan napas terakhir pada usia 87 tahun, Kamis 23 Juli 2026 dini hari, setelah menjalani perawatan di RS Bali Mandara.

Kepergian sosok yang selama lebih dari setengah abad mendedikasikan hidupnya untuk dunia anak-anak tersebut menjadi kehilangan besar bagi Bali, khususnya dalam pelestarian tradisi tutur, cerita rakyat, permainan tradisional, dan gending rare Bali. Kabar duka tersebut disampaikan pihak keluarga.

Menantu almarhum, Made Maharini, mengatakan kondisi kesehatan Made Taro mulai menurun setelah mengalami keluhan perut kembung yang kemudian berkembang menjadi komplikasi. "Karena mengalami kesulitan bernapas, bapak akhirnya dirawat di ruang ICU dan berpulang tadi dini hari," ujar Maharini.

Terkait prosesi penghormatan terakhir, pihak keluarga masih melakukan pembahasan. Keluarga juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidupnya Made Taro memiliki kekhilafan.

"Mewakili almarhum, kami mohon maaf jika selama hidup ada kesalahan. Mohon doa agar seluruh proses selanjutnya berjalan lancar," katanya.

Lahir di Karangasem pada 1939, Made Taro dikenal sebagai sosok yang konsisten menjaga budaya Bali melalui dunia dongeng. Selama sekitar 51 tahun, ia memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak melalui cerita, permainan tradisional, dan aktivitas kreatif.

Melalui Sanggar Kukuruyuk yang didirikannya, Made Taro menciptakan ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya Bali dengan cara yang menyenangkan. Sanggar tersebut resmi berdiri pada 1979, setelah sebelumnya ia memulai kegiatan mendongeng dari kelompok kecil di rumahnya bersama sejumlah anak.

Bagi Made Taro, dunia anak-anak bukan sekadar ruang hiburan, melainkan tempat menanamkan nilai ketulusan, kesederhanaan, dan kejujuran. "Di dunia anak-anak saya banyak belajar tentang kesederhanaan dan kejujuran. Anak-anak itu polos, mereka menyampaikan sesuatu apa adanya," ungkap Made Taro dalam sebuah wawancara saat masih sehat.

Kecintaannya terhadap dunia anak dan budaya Bali membuat Made Taro terus berkarya tanpa mengenal lelah. Baginya, mendongeng merupakan cara untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Selain aktif mendongeng, Made Taro juga produktif menulis berbagai buku. Sejumlah karya yang lahir dari tangannya antara lain Seni Tutur Sang Penolong, Seni Tutur Aku Cinta Ayah Bunda, Seni Tutur Dari Rumah Dongeng, Seni Tutur Dongeng Masa Kini, Seni Tutur Bali Berkisah, dan Dongengku Cerminku.

Dedikasinya dalam bidang sastra dan budaya Bali mengantarkan Made Taro meraih berbagai penghargaan, di antaranya Adi Karya dari Ikapi, Anugerah Sastra Rancage, Bali Award, Anugerah Permata, Hindu Books & Readers Community, Seni Kerti Budaya, serta Widya Pataka.

Tidak hanya dikenal di tingkat nasional, kiprah Made Taro juga mendapat pengakuan internasional. Ia pernah diundang tampil mendongeng di sejumlah negara, seperti Australia, Afrika Selatan, Singapura, dan Thailand.

Kini Bali kehilangan salah satu penjaga tradisi tutur. Namun, kisah-kisah yang diwariskan Made Taro diyakini akan tetap hidup sebagai bagian dari kekayaan budaya Bali yang terus mengalir dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....