Filosofi "Buka Ngidih Apine", Mengajarkan Ilmu Takkan Habis walau Dibagikan
- 23 Jul 2026 07:06 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Filosofi 'Buka Ngidih Apine' mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan justru semakin berkembang ketika dibagikan kepada orang lain tanpa rasa takut kehilangan.
- Ajik Tibah menekankan bahwa ilmu tidak boleh disimpan hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi harus diwariskan kepada generasi berikutnya agar terus memberi manfaat masyarakat.
- Metafora api digunakan untuk menjelaskan bahwa berbagi ilmu seperti menyalakan api lain tanpa membuat nyalanya berkurang, menggambarkan sifat pengetahuan yang berlipat ganda saat dibagikan.
RRI.CO.ID, Denpasar – Siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, menghadirkan Ajik Tibah dan I Nyoman Sunarta yang mengangkat tema "Buka Ngidih Apine", sebuah filosofi Bali yang mengajarkan pentingnya berbagi ilmu, pengalaman, dan semangat tanpa rasa takut kehilangan. Keduanya menjelaskan bahwa pengetahuan justru akan semakin berkembang ketika dibagikan kepada orang lain, layaknya api yang mampu menyalakan api lain tanpa membuat nyalanya berkurang.
Tibah mengatakan bahwa ilmu tidak boleh disimpan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan harus diwariskan kepada generasi berikutnya agar terus memberi manfaat bagi masyarakat. "Api yang dipakai menyalakan api lain tidak akan membuat nyalanya berkurang, begitu pula ilmu pengetahuan," ujarnya.
| Baca juga: Tumpek dalam Hindu Selaras dengan Kehidupan |
Dalam obrolan tersebut dijelaskan bahwa seseorang yang bersedia berbagi pengetahuan akan melahirkan lebih banyak orang yang mampu berkarya dan menciptakan inovasi baru. Semangat belajar dan mengajar dipandang sebagai proses yang saling melengkapi sehingga perkembangan diri maupun komunitas dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sementara Sunarta menegaskan bahwa setiap gagasan besar selalu berawal dari keberanian untuk bertanya, berdiskusi, dan menerima masukan dari orang lain. "Jangan takut berbagi pengalaman, karena dari sanalah lahir ide-ide baru yang bermanfaat," katanya.
Selain membahas pentingnya berbagi ilmu, dialog juga menyinggung tanggung jawab sosial dalam kehidupan sehari-hari, Tibah juga mengingatkan bahwa seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata. "Belajar adalah proses, dan proses itu tidak akan berhenti selama kita terus mau mendengar dan memahami," tuturnya.
Menurut Tibah dan Sunarta, sikap rendah hati menjadi kunci agar seseorang terus berkembang karena selalu terbuka menerima ilmu baru dari siapa pun. Dengan cara tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pengetahuan, tetapi juga ikut berperan sebagai penyebar nilai-nilai positif di lingkungannya.
Menutup perbincangan, keduanya mengajak masyarakat menjadikan budaya berbagi ilmu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari demi membangun generasi yang lebih cerdas dan berkarakter. "Mari saling menyalakan semangat seperti api yang terus memberi cahaya tanpa pernah kehilangan nyalanya," pungkas mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....