Remaja tanpa Etika Rentan Terseret Arus Zaman, Mengapa?

  • 16 Jul 2026 13:49 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Penyuluh Agama Hindu Ni Ketut Suarniti mengajak remaja menjadikan etika Hindu sebagai pedoman hidup dalam menghadapi tantangan era digital dan perkembangan teknologi.
  • Dharma yang diwujudkan melalui etika (susila) menjadi pegangan hidup kokoh dengan landasan Tri Kaya Parisudha: Manacika (berpikir baik), Wacika (berkata baik), dan Kayika (berbuat baik).
  • Ajaran Tat Twam Asi menekankan empati dengan makna 'Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku' untuk membangun sikap saling menghormati dan menghindari perundungan di masyarakat.

RRI.CO.ID, Denpasar – Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Ketut Suarniti, mengajak generasi remaja menjadikan etika Hindu sebagai pedoman hidup dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan derasnya arus teknologi digital. Pesan tersebut disampaikan dalam program siaran Surya Puja yang disiarkan di Pro 4 RRI Denpasar dengan tema Etika Hindu bagi Generasi Remaja, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurut Suarniti, masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan karakter karena pada periode tersebut seseorang mulai mencari jati diri, menentukan tujuan hidup, serta membangun prinsip yang akan melekat hingga dewasa. Ia menegaskan bahwa kualitas generasi muda saat ini akan menentukan masa depan bangsa, agama, keluarga, dan masyarakat.

"Remaja hari ini adalah pemimpin masa depan, sehingga kualitas karakter mereka harus dipersiapkan sejak dini melalui nilai-nilai Dharma," ujar Suarniti. Ia menjelaskan, perkembangan media sosial dan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa pengaruh negatif, penyalahgunaan teknologi, hingga pergaulan yang menyimpang apabila tidak disikapi dengan bijaksana, dan memerlukan peran orang tua, guru, dan tokoh agama untuk memberikan bimbingan agar remaja tetap berada di jalan yang benar.

Suarniti mengatakan, dalam ajaran Hindu, pegangan hidup yang kokoh adalah Dharma yang diwujudkan melalui perilaku atau etika (susila). Etika tidak hanya menjadi aturan sosial, tetapi juga bentuk nyata pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

"Etika Hindu mengajarkan manusia berpikir, berkata, dan berbuat yang baik agar tercipta keharmonisan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta," katanya. Ia memaparkan bahwa dasar etika Hindu tercermin dalam ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni Manacika (berpikir baik), Wacika (berkata baik), dan Kayika (berbuat baik), yang menjadi landasan moral agar setiap tindakan diawali oleh pikiran yang bersih dan diwujudkan melalui ucapan serta perbuatan yang benar.

Selain Tri Kaya Parisudha, Suarniti juga mengangkat ajaran Tat Twam Asi yang mengandung makna "Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku" sebagai dasar membangun empati. Melalui pemahaman tersebut, remaja diajak menghargai orang lain, menghindari perundungan, serta membangun sikap saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.

"Tat Twam Asi mengajarkan kita untuk berempati sehingga tidak tega menyakiti atau merendahkan orang lain," jelasnya. Suarniti mengingatkan bahwa tantangan terbesar remaja saat ini tidak hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari dunia digital. Ia mengajak generasi muda menggunakan media sosial secara bijaksana dengan menghindari ujaran kebencian, pamer berlebihan, maupun perkataan yang dapat melukai orang lain.

Menutup siaran, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menegaskan, bahwa generasi mudalah yang akan meneruskan kearifan moral yang berlandaskan Dharma kepada generasi mendatang. "Gunakan masa muda untuk belajar, berkarya, berbuat kebaikan, serta mengisi kehidupan dengan kegiatan positif agar menjadi generasi Hindu yang berkarakter dan bertanggung jawab," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....