Menjaga Alam Berawal dari Menjaga Isi Pikiran

  • 15 Jul 2026 12:21 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Upaya menjaga kebersihan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan dengan mengurangi sampah atau membersihkan sungai dan pantai. Lebih dari itu, kepedulian terhadap alam harus diawali dengan membersihkan isi pikiran dan hati manusia.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 14 Juli 2026. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Provinsi Bali, Ni Nengah Rasmiati, S.Ag.,M.Pd.H., membahas pentingnya mengelola "sampah dalam diri". Narasumber menjelaskan, kerusakan lingkungan pada dasarnya berakar dari perilaku manusia yang dipengaruhi oleh cara berpikir, berbicara, dan bertindak. "Kalau pikiran kita bersih, maka perkataan dan perbuatan juga akan baik. Dari situlah tumbuh kepedulian untuk menjaga alam dan lingkungan," ujar.

Dalam ajaran Hindu, kebersihan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kondisi fisik. Manusia diajak menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tercipta keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Nengah Rasmiati menilai, emosi negatif seperti amarah, iri hati, kebencian, dan keserakahan merupakan bentuk "sampah" yang harus dibersihkan. Jika dibiarkan, emosi tersebut tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga memengaruhi sikap terhadap lingkungan.

"Sampah di dalam diri sering kali menjadi penyebab lahirnya perilaku yang tidak peduli terhadap lingkungan. Karena itu, membersihkan hati sama pentingnya dengan membersihkan alam," jelasnya.

Ia menambahkan, kebiasaan sederhana seperti berdoa, melakukan introspeksi, mengendalikan emosi, serta membiasakan berpikir positif menjadi langkah awal untuk membangun karakter yang peduli terhadap sesama dan lingkungan.

Menurutnya, menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas pecinta lingkungan, melainkan menjadi tanggung jawab setiap individu. Ketika setiap orang mampu mengelola pikirannya dengan baik, tindakan nyata untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam akan tumbuh secara alami.

Di tengah berbagai tantangan pengelolaan sampah di Bali, pesan ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri. Alam yang lestari tidak hanya membutuhkan aksi membersihkan lingkungan, tetapi juga manusia yang memiliki hati, pikiran, dan perilaku yang bersih.

Dengan demikian, menjaga alam sesungguhnya adalah cerminan dari kemampuan manusia menjaga dirinya sendiri. Ketika isi pikiran dipenuhi rasa syukur, kepedulian, dan tanggung jawab, maka hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan akan tetap terpelihara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....