Sampah Emosi Bisa Lebih Berbahaya daripada Sampah Plastik

  • 15 Jul 2026 12:20 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Ketika berbicara tentang sampah, banyak orang langsung membayangkan tumpukan plastik yang mencemari sungai atau pantai. Namun, ada jenis sampah lain yang tak kasatmata dan dinilai tak kalah berbahaya, yakni sampah emosi berupa amarah, iri hati, dendam, kebencian, hingga keserakahan yang tersimpan dalam diri manusia.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 14 Juli 2026, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Provinsi Bali, Ni Nengah Rasmiati, S.Ag.,M.Pd.H., mengangkat pentingnya membersihkan "sampah dalam diri" sebagai bagian dari kehidupan yang harmonis. Nengah Rasmiati, menilai, persoalan lingkungan sejatinya berawal dari perilaku manusia. Ketika pikiran dan hati dipenuhi emosi negatif, kepedulian terhadap sesama maupun lingkungan pun akan berkurang.

"Sampah yang paling berbahaya bukan hanya yang terlihat secara fisik, tetapi juga sampah dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Semua itu harus dibersihkan agar hidup menjadi lebih harmonis," ujarnya.

Dalam ajaran Hindu, kebersihan tidak hanya dimaknai sebagai kebersihan jasmani, tetapi juga kesucian batin. Oleh karena itu, setiap orang diajak untuk rutin melakukan introspeksi, mengendalikan emosi, serta menjaga ucapan dan tindakan agar tidak menyakiti orang lain.

Nengah Rasmiati menjelaskan, sampah plastik memang dapat merusak lingkungan, tetapi sampah emosi mampu merusak hubungan antarmanusia, mengganggu ketenangan batin, bahkan memicu berbagai konflik sosial. Karena itu, pengelolaan emosi menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang damai. "Kalau sampah plastik mencemari alam, maka sampah emosi mencemari hati. Keduanya sama-sama harus dikelola dengan baik," jelasnya.

Menurutnya, membersihkan sampah emosi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memperbanyak rasa syukur, mengendalikan amarah, memperkuat toleransi, serta meluangkan waktu untuk berdoa dan mengevaluasi diri setiap hari.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah, pesan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan sebaiknya berjalan beriringan dengan menjaga kebersihan batin. Sebab, lingkungan yang bersih akan lebih mudah terwujud apabila diawali oleh manusia yang memiliki pikiran jernih, hati yang tenang, dan perilaku yang penuh kepedulian.

Dengan demikian, upaya menciptakan Bali yang bersih tidak hanya diwujudkan melalui pengurangan sampah plastik, tetapi juga melalui kesediaan setiap orang untuk membuang "sampah emosi" dalam dirinya. Dari hati yang bersih, akan lahir tindakan yang lebih bijaksana terhadap sesama maupun alam.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....