Mengapa Penjor Dicabut setelah Galungan? ternyata Ada Makna Mendalam

  • 08 Jul 2026 22:50 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar– Bagi masyarakat Hindu di Bali, penjor menjadi salah satu simbol paling ikonik saat Hari Raya Galungan. Deretan bambu melengkung yang dihiasi janur, hasil bumi, dan berbagai perlengkapan upacara menghiasi hampir setiap rumah dan jalan desa. Namun, tidak sedikit yang bertanya-tanya, mengapa penjor harus dicabut setelah rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan berakhir?

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 7Juli 2026, Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag., M.Si., menjelaskan bahwa pencabutan penjor bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan memiliki filosofi yang sarat makna tentang rasa syukur, keseimbangan, dan hubungan manusia dengan alam.

Menurutnya, penjor merupakan simbol persembahan atas anugerah yang diberikan Tuhan melalui alam semesta. Berbagai hiasan yang melekat pada penjor, seperti padi, kelapa, pisang, janur, hingga hasil bumi lainnya, melambangkan kemakmuran yang telah diterima manusia dalam kehidupan sehari-hari. "Penjor adalah ungkapan syukur atas hasil bumi dan segala berkah yang diberikan alam. Karena itu, ketika rangkaian Galungan dan Kuningan selesai, penjor juga memiliki siklus yang harus diakhiri," jelasnya.

Ia menerangkan, penjor dicabut pada Buda Kliwon Pegatwakan, yang menandai berakhirnya masa Uncal Balung sekaligus penutup rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Momen tersebut menjadi simbol bahwa umat kembali menjalani aktivitas kehidupan seperti biasa setelah melalui masa perayaan dan perenungan spiritual.

Lebih jauh, pencabutan penjor juga menjadi bentuk pengembalian unsur-unsur alam kepada asalnya. Hiasan seperti janur, daun, dan perlengkapan organik lainnya umumnya dibakar sebagai simbol mengembalikan persembahan kepada alam. Sementara bambu penjor biasanya dimanfaatkan kembali atau dikembalikan sesuai kebiasaan masyarakat setempat.

Filosofi tersebut mengajarkan bahwa manusia bukan hanya menerima anugerah alam, tetapi juga memiliki kewajiban menjaga keseimbangan dan menghormati sumber kehidupan yang telah memberikan keberkahan.

Dalam penjelasannya, narasumber juga mengingatkan bahwa setiap rangkaian tradisi Galungan memiliki awal dan akhir yang penuh makna. Jika pemasangan penjor menjadi simbol dimulainya perayaan kemenangan dharma melawan adharma, maka pencabutannya menjadi tanda bahwa nilai-nilai kemenangan itu kini harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi tersebut sekaligus mengingatkan bahwa perayaan keagamaan bukan hanya berhenti pada seremoni. Nilai utama justru terletak pada bagaimana manusia membawa semangat kebajikan, rasa syukur, dan keseimbangan setelah seluruh rangkaian upacara selesai.

Di tengah perkembangan zaman, filosofi itu tetap relevan. Penjor mengajarkan bahwa setiap keberhasilan, kemakmuran, maupun kebahagiaan yang diterima manusia tidak boleh dipandang sebagai milik pribadi semata, melainkan sebagai anugerah yang harus disyukuri dan dijaga bersama.

Dengan demikian, pencabutan penjor bukanlah tanda berakhirnya makna Galungan. Sebaliknya, tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai spiritual yang telah dipelajari selama perayaan harus terus hidup dalam tindakan nyata, melalui rasa syukur kepada Tuhan, kepedulian terhadap sesama, dan penghormatan kepada alam yang menjadi sumber kehidupan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....