Benarkah Mebanten Perlu Dikurangi Demi Kurangi Sampah?

  • 09 Jul 2026 07:01 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, menegaskan bahwa tradisi mebanten tidak boleh dipahami secara multitafsir karena merupakan bagian penting dari pelaksanaan yadnya dalam ajaran Hindu. Hal itu disampaikan dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar edisi Selasa 7 Juli 2026, yang mengangkat tema "Pebedikan Mebanten", dengan menekankan pentingnya pemahaman yang utuh agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah umat.

Menurutnya, lontar-lontar Hindu menjelaskan bahwa yadnya merupakan wujud pengamalan ajaran suci yang menjaga keseimbangan alam semesta. "Banten itu adalah yadnya yang menghidupkan alam, sehingga pelaksanaannya tidak boleh dipahami secara keliru," ujar Arya.

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan yadnya tidak hanya dilakukan pada hari-hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan, maupun piodalan, tetapi juga diwujudkan melalui persembahan harian sebagai bentuk rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Praktik tersebut, katanya, merupakan bagian dari siklus timbal balik antara manusia, alam, dan Tuhan yang terus menjaga keharmonisan kehidupan.

Arya juga menyoroti munculnya wacana pengurangan praktik mebanten dengan alasan pengurangan sampah. "Persoalan sampah bukan alasan untuk menghentikan atau memperlambat perputaran yadnya, melainkan memperbaiki cara pengelolaannya," tegasnya.

Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut menilai sebagian besar komponen banten berasal dari bahan-bahan organik yang dapat kembali ke alam, sehingga persoalan lingkungan justru muncul ketika penggunaan plastik, styrofoam, dan bahan sintetis semakin meningkat. Karena itu, solusi yang ditawarkan adalah mengurangi penggunaan bahan nonorganik, memperkuat pengelolaan sampah berbasis desa adat, serta mengolah sisa bunga menjadi pupuk organik.

Selain memiliki nilai spiritual, tradisi mebanten juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat Bali. Kegiatan tersebut menghidupi petani bunga, pedagang janur, perajin sarana upakara, hingga pelaku UMKM yang selama ini menjadi bagian dari rantai ekonomi berbasis budaya.

Arya menambahkan bahwa penyederhanaan banten sebenarnya telah diatur dalam konsep tingkatan utama, madya, dan nista sesuai kemampuan umat. "Yang perlu dikurangi bukan banten, tetapi ketidakbijaksanaan dalam mengelola sisa persembahan," katanya.

Pada akhir pemaparannya, ia mengajak umat Hindu untuk tetap menjaga tradisi mebanten dengan bijaksana tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur agama. "Yadnya yang hidup adalah perputaran yang hidup, dan perputaran yang hidup adalah kehidupan itu sendiri," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....