Ratusan Kerbau Beradu Cepat di Sirkuit All in One Jembrana
- 29 Jun 2026 07:00 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jembrana - Sirkuit All in One di Desa Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali, mendadak riuh oleh suara gemuruh ratusan pasang kerbau, Minggu pagi 28 Juni 2026. Lengkap dengan hiasan megah dan aksesoris khas yang berkilauan, mamalia yang biasanya tenang membajak sawah tersebut, kini bersiap memacu adrenalin dalam tradisi tahunan balap kerbau bergengsi yang disebut Mekepung.
Berbeda dari balapan pada umumnya, pemenang Mekepung tidak ditentukan oleh siapa yang menyentuh garis finis pertama kali. Penilaian justru diukur dari konsistensi jarak antar-peserta. Kedua pasang kerbau dilepas secara berurutan dengan jeda beberapa meter di posisi start.
Jika sepasang kerbau di posisi belakang mampu memperpendek jarak dengan rival di depannya hingga garis finis, mereka dinyatakan menang. Sebaliknya, jika regu depan berhasil memperlebar atau mempertahankan jarak, keunggulan menjadi milik mereka.
Edisi pembuka kompetisi tahun ini menjadi sangat istimewa karena memperebutkan Piala Kapolda Bali (Kapolda Cup 2026), sekaligus menyemarakkan HUT Bhayangkara ke-80. Momentum ini sekaligus mempertegas komitmen Kepolisian Daerah Bali dalam merawat warisan budaya adiluhung lokal yang menjadi motor penggerak pariwisata daerah.
"Kita mendukung program dari pemerintah di mana Bali sangat kental dengan budaya yang mendukung pariwisata. Sesuai dengan program Bapak Kapolda Bali untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas, kami mencoba mengakomodir budaya yang ada di Jembrana, khususnya Makepung ini," ujar Kapolres Jembrana, AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati.
Tingginya gengsi kompetisi kali ini tercermin dari antusiasme luar biasa para peserta. Lintasan balap dibagi menjadi dua kubu besar yang dipisahkan secara geografis oleh Sungai Ijogading, yaitu Regu Ijogading Timur yang mengerahkan 122 peserta dan Regu Ijogading Barat dengan 132 peserta.
Koordinator Mekepung Kabupaten Jembrana, I Made Mara, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak kepolisian. "Di awal musim lomba Makepung melalui event Kapolda Cup 2026 ini, pesertanya sangat antusias sekali. Kami sangat mengapresiasi Polres Jembrana dan Polda Bali. Kami berharap event seperti ini terus dilanjutkan sebagai bentuk pelestarian tradisi budaya," ungkapnya.
Tradisi Mekepung sendiri lahir dari kearifan lokal agraris masyarakat Jembrana tempo dulu. Usai panen raya, para petani kerap bergotong-royong mengangkut padi menuju lumbung rumah menggunakan gerobak penarik kerbau. Di tengah perjalanan, spontanitas untuk saling memacu kecepatan berkembang menjadi tradisi balapan yang dipertahankan secara turun-temurun menjelang bulan Agustus.
Selain mempererat solidaritas, Mekepung kini bertransformasi menjadi sektor ekonomi yang menjanjikan. Kerbau pacuan yang kerap menyabet gelar juara mengalami lonjakan nilai jual yang sangat fantastis di pasaran, menjadikan tradisi ini tidak hanya sekadar hiburan, melainkan sebuah kebanggaan dan investasi berharga bagi masyarakat bumi makepung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....