Apa Kata Ajaran Agama Hindu saat Harapan Hilang
- 25 Jun 2026 12:23 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Kasus bunuh diri yang masih terjadi di Bali menjadi perhatian berbagai pihak karena berkaitan dengan persoalan kesehatan mental, sosial, ekonomi, dan spiritual. Kondisi tersebut mendorong perlunya edukasi yang lebih luas mengenai pentingnya menjaga kesehatan jiwa serta memperkuat dukungan bagi individu yang sedang mengalami tekanan hidup.
Hal itu disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Ketut Suarniti dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Kamis, 25 Juni 2026. Menurutnya, ajaran Hindu memandang kehidupan sebagai anugerah suci yang harus dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
“Dalam agama Hindu, kehidupan dianggap sebagai anugerah suci yang harus dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki dharma atau kewajiban hidup yang perlu dijalankan sebagai bagian dari perjalanan spiritual menuju kebahagiaan dan pembebasan.
Suarniti mengatakan berbagai faktor dapat memengaruhi munculnya krisis psikologis pada diri seseorang. Faktor tersebut antara lain gangguan kesehatan mental, tekanan ekonomi, konflik keluarga, kehilangan orang yang dicintai, hingga tekanan sosial yang berkepanjangan.
Menurutnya, individu yang mengalami tekanan berat sering kali merasa kehilangan harapan dan dukungan. Oleh sebab itu, peran keluarga, lingkungan, dan masyarakat sangat penting dalam menciptakan ruang aman bagi seseorang untuk berbagi perasaan dan mencari pertolongan.
“Kurangnya akses terhadap layanan kesehatan mental dan masih kuatnya stigma membuat banyak orang enggan mencari bantuan,” kata Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut. Ia menilai edukasi mengenai kesehatan mental perlu terus ditingkatkan agar masyarakat lebih memahami pentingnya mencari bantuan profesional ketika menghadapi masalah psikologis.
Dalam perspektif Hindu, hukum karma mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang akan memengaruhi perjalanan hidup manusia. Karena itu, umat diajak menghadapi berbagai tantangan hidup dengan keteguhan, kesabaran, dan penguatan spiritual.
“Menjalani hidup walaupun penuh tantangan adalah bagian dari proses kehidupan menuju moksa,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa ajaran Hindu mendorong umat untuk mengembangkan pengendalian diri, kebijaksanaan, serta belas kasih dalam menghadapi penderitaan hidup.
Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga menjadi tantangan baru, terutama bagi kalangan remaja. Tekanan untuk tampil sempurna, perundungan, dan komentar negatif dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang apabila tidak disertai pendampingan yang memadai.
Pemerintah dan berbagai elemen masyarakat juga terus didorong untuk memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi, layanan kesehatan mental, dan dukungan komunitas. Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan hidup secara lebih sehat dan konstruktif.
“Pendekatan yang seimbang antara nilai-nilai agama dan pendekatan psikologis sangat dibutuhkan untuk membantu mereka yang sedang berjuang dengan penderitaan batin,” ungkap Suarniti. Ia berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan mental serta berani memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.
Melalui siaran tersebut, umat Hindu diajak untuk menjaga harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa sebagai bagian dari praktik kehidupan beragama. Dengan dukungan keluarga, masyarakat, dan layanan yang tepat, setiap individu diharapkan mampu menemukan harapan serta kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....