Kesenian Langka Bali Terancam Punah, Rekonstruksi Dinilai Mendesak

  • 25 Jun 2026 06:26 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Sejumlah kesenian tradisional Bali terancam hilang akibat minimnya regenerasi, lemahnya dokumentasi, dan berkurangnya ruang hidup di tengah masyarakat. Kondisi ini mendorong perlunya rekonstruksi dan pelestarian secara sistematis agar warisan budaya leluhur tidak punah ditelan zaman.

Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya Kawiya Bali bekerja sama dengan PWI Provinsi Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Denpasar, Senin 22 Juni 2026, yang menghadirkan Guru Besar ISI Bali Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati dan Dosen ISI Bali I Nyoman Mariyana. Trisnawati mengatakan ancaman terhadap kesenian tradisional tidak hanya dipengaruhi modernisasi, tetapi juga perubahan sosial yang membuat sejumlah kesenian kehilangan fungsi dan ruang hidup. Persoalan itu diperparah dengan minimnya dokumentasi sehingga banyak jejak kesenian Bali sulit ditelusuri.

“Banyak data dan dokumen kesenian yang tidak lengkap, sehingga menyulitkan upaya pelestarian dan rekonstruksi,” ujarnya.

Menurutnya, rekonstruksi tidak sekadar menghidupkan kembali bentuk pertunjukan yang hilang, tetapi juga menggali sejarah, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Beberapa kesenian yang telah direkonstruksi antara lain Gambuh Pedungan, Wayang Wong Tejakula, dan Arja Muani. Namun, ia mengingatkan banyak kesenian yang kembali tidak aktif setelah dipentaskan dalam ajang tertentu.

“Jangan sampai setelah tampil di PKB, kesenian itu kembali tidur. Harus ada pembinaan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, I Nyoman Mariyana menilai akar persoalan terletak pada melemahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Ia mencontohkan gamelan Gambang yang kini mengalami krisis regenerasi, bahkan sebagian perangkatnya tidak lagi dirawat.

“Warisan budaya bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi menjadi tanggung jawab untuk dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Ketua Kawiya Bali, I Putu Suryadi, menegaskan penyelamatan kesenian langka membutuhkan sinergi pemerintah, akademisi, seniman, desa adat, media, dan masyarakat. Selain dokumentasi dan regenerasi, Bali juga dinilai perlu memiliki basis data kesenian yang dikelola secara berkelanjutan.

“Tanpa langkah konkret, Bali berisiko kehilangan sebagian memori budayanya. Karena itu, rekonstruksi harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan,” ujarnya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....