Pahami Makna Enam Piranti Unik dalam Ritual Tumpek Kuningan
- 25 Jun 2026 12:04 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID- Denpasar, Perayaan Hari Raya Kuningan yang jatuh setiap 210 hari sekali pada wuku Kuningan, memiliki keunikan tersendiri melalui penggunaan berbagai sarana upakara tradisional khas, yang mendominasi setiap sesajen umat Hindu. Penyuluh Ahli Madya Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama ( Kemenag) Bali, I Gusti Putu Suana,S.Ag.,M.Si.mengungkapkan berbagai piranti yang mayoritas berbahan anyaman janur tersebut,bukan sekadar hiasan melainkan media sakral yang menyimbolkan perlindungan diri, persenjataan spiritual, serta bekal utama untuk mengarungi kehidupan.
Suana menambahkan, umat Hindu menggunakan bentuk-bentuk menyerupai alat perang kuno ini, sebagai representasi kemenangan dharma atas adharma, yang wajib dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari di dunia."Piranti dalam perayaan Kuningan memiliki makna mendalam sebagai simbol perlindungan, persenjataan spiritual, dan bekal kehidupan untuk mempertahankan kebaikan atas kejahatan," tutur Suana ketika berbincang dalam program obrolan komunitas di Pro 4 RRI denpasar, Selasa 23 Juni 2026.
Di antara sarana utama tersebut, terdapat tamiang berbentuk bulat, yang melambangkan perisai perlindungan diri, sekaligus roda alam atau cakra penanda hukum perputaran hidup manusia. Selain perisai, umat juga membuat endongan berupa anyaman menyerupai kantong belanja, sebagai simbol bekal perjalanan rohani yang paling utama, yaitu ilmu pengetahuan dan pengabdian yang tulus.
Suana mengungkapkan mengenai kelengkapan piranti lainnya, seperti “ter” fungsi panah atau tombak tradisional yang disebut “ ter “ tersebut, sebagai senjata penghancur sifat buruk manusia. "Ter" melambangkan senjata ketajaman pikiran yang digunakan untuk memanah atau menghancurkan kebodohan serta sifat-sifat buruk di dalam diri sendiri," ujar Suana.
Tidak ketinggalan, ornamen penting lainnya seperti nasi kuning yang ditempatkan dalam wadah selanggi, dihadirkan sebagai simbol kemakmuran, kesejahteraan, serta rasa syukur atas limpahan materi dari Tuhan. Ada pula sampian gantung yang dipasang pada sudut bangunan, sebagai penolak bala dari pengaruh negatif mahluk halus, serta wayang-wayangan janur sebagai manifestasi tuntunan Sang Hyang Widhi Wasa.
Seluruh piranti sakral ini menurut Suana wajib ditata dan dipasang pada pelinggih, maupun sudut-sudut rumah umat Hindu, sebelum memasuki waktu siang hari. Melalui pemahaman makna sarana ini, umat diharapkan tidak hanya terampil membuat upakara secara fisik, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai persenjataan batin tersebut dalam melawan godaan duniawi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....