Dari Maestro ke Kejar Target: Perubahan Pola Kerja Masyarakat Bali

  • 05 Jun 2026 09:32 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Bali dikenal sebagai pulau yang kaya akan seni, budaya, dan karya-karya yang lahir dari ketekunan serta dedikasi para senimannya. Di masa lalu, masyarakat Bali menjalani proses berkarya dengan penuh kesabaran, mengutamakan kualitas dan makna dalam setiap hasil pekerjaan. Namun, seiring perkembangan zaman, pola kerja masyarakat Bali perlahan mengalami perubahan.

Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 6 Juni 2026, Dokter dan Psikiater, Prof. Cok Bagus Jaya L, SpKJ(K),MARS mengungkapkan bahwa ritme kehidupan masyarakat Bali kini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu pekerjaan dilakukan dengan mengedepankan proses dan keharmonisan, kini banyak sektor pekerjaan dituntut untuk menghasilkan sesuatu dalam waktu yang singkat demi memenuhi kebutuhan pasar dan industri.

Menurutnya, perubahan tersebut tidak lepas dari berkembangnya sektor pariwisata dan dunia usaha yang semakin kompetitif. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk membangun relasi sosial dan menikmati proses berkarya kini sering kali diukur dengan produktivitas dan target yang harus dicapai. Akibatnya, orientasi kerja pun berubah dari menghasilkan karya yang sarat karakter menjadi mengejar kuantitas dan kecepatan produksi.

Prof. Cok Bagus mencontohkan, pada masa lalu Bali dikenal memiliki banyak maestro di berbagai bidang seni dan kerajinan. Karya yang dihasilkan lahir dari proses panjang yang memungkinkan para seniman menuangkan identitas, kreativitas, dan nilai budaya ke dalam setiap ciptaannya. Namun saat ini, keberadaan maestro semakin jarang ditemukan karena banyak pekerja dan perajin harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang menuntut hasil cepat dan jumlah produksi yang besar.

Perubahan pola kerja tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas karya, tetapi juga pada kondisi psikologis masyarakat. Ketika pekerjaan lebih berorientasi pada target dibandingkan makna, tidak sedikit pekerja yang mulai merasakan kejenuhan, kehilangan semangat, hingga mengalami tekanan mental akibat tuntutan yang terus meningkat.

Meski demikian, nilai-nilai budaya Bali yang mengedepankan keseimbangan dan keharmonisan dinilai tetap penting untuk dipertahankan. Di tengah tuntutan dunia modern, masyarakat diajak untuk tidak melupakan esensi bekerja sebagai bagian dari proses berkarya dan pengabdian, bukan semata-mata memenuhi target ekonomi.

Perubahan memang tidak dapat dihindari. Namun menjaga kualitas, karakter, dan nilai-nilai yang menjadi identitas Bali tetap menjadi tantangan sekaligus harapan agar kemajuan dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan kesejahteraan masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....