Sering Cemas dan Merasa Tidak Cukup? ternyata Ini Akar Masalahnya Menurut Hindu

  • 12 Mei 2026 07:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Ketut Diah Widya Utami, mengajak masyarakat untuk mengatasi stres dan kecemasan melalui ajaran Hindu dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa 12 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa tekanan hidup modern seperti tuntutan pekerjaan, perbandingan sosial di media digital, hingga ketidakpastian masa depan sering memicu kegelisahan batin, khususnya pada generasi muda.

“Dalam ajaran Hindu sesungguhnya telah diwariskan berbagai konsep luhur yang sangat relevan untuk menghadapi dinamika kehidupan modern, termasuk dalam mengatasi stres dan kecemasan,” ujar Widya Utami. Ia menjelaskan bahwa ajaran Tri Kaya Parisudha mengajarkan pentingnya menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagai dasar membangun ketenangan batin.

Menurutnya, stres dan kecemasan sering kali muncul dari pikiran yang tidak terjaga, seperti rasa takut terhadap masa depan, penyesalan masa lalu, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. “Ketika pikiran kita mulai tertata, maka perkataan akan menjadi lebih lembut, dan tindakan pun akan menjadi lebih bijaksana,” katanya.

Selain Tri Kaya Parisudha, Diah juga menyoroti ajaran Santosah atau rasa cukup dan syukur sebagai cara meredam tekanan batin di tengah budaya persaingan sosial yang semakin kuat. Ia mengatakan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari pencapaian besar, melainkan dari kemampuan menghargai apa yang sudah dimiliki saat ini.

“Ketika kita mampu berkata dalam hati saya cukup, maka di saat itulah ketenangan mulai tumbuh,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa sikap bersyukur membantu seseorang tetap berusaha tanpa kehilangan ketenangan dalam menjalani proses kehidupan.

Dalam pemaparannya, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut turut mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup melalui ajaran Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan. Menurutnya, ketidakseimbangan dalam salah satu hubungan tersebut dapat memicu tekanan emosional dan membuat seseorang kehilangan arah hidup.

“Ketika ajaran-ajaran ini diterapkan secara perlahan dan konsisten, maka perubahan itu akan mulai terasa, pikiran menjadi lebih jernih dan hati menjadi lebih lapang,” tuturnya. Ia pun mengajak masyarakat untuk mulai melatih pengendalian diri, meditasi, serta memberi ruang bagi batin untuk beristirahat agar kehidupan terasa lebih tenang dan seimbang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....