Fenomena Wisata “Content Hunting” yang Mengganggu Tempat Sakral

  • 11 Mei 2026 10:19 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah mengubah cara orang berwisata. Banyak destinasi tidak lagi hanya dikunjungi untuk menikmati suasana, tetapi juga untuk mencari konten visual yang menarik. Fenomena ini dikenal sebagai content hunting.

Content hunting adalah aktivitas wisata yang berfokus pada pencarian spot foto atau video demi unggahan di media sosial. Tren ini berkembang seiring meningkatnya budaya digital dan kebutuhan akan eksistensi online.

Namun, di balik popularitasnya, content hunting mulai menimbulkan persoalan serius. Khususnya ketika dilakukan di tempat-tempat yang bersifat sakral atau memiliki nilai spiritual tinggi.

Banyak lokasi seperti pura, candi, makam leluhur, hingga area ritual adat kini menjadi latar foto tanpa memahami aturan dan makna budaya di baliknya. Hal ini sering memicu konflik antara wisatawan dan masyarakat lokal yang menjaga kesucian tempat tersebut.

Menurut National Geographic Culture & Travel, salah satu masalah utama dari fenomena ini adalah hilangnya rasa hormat terhadap ruang sakral. Wisatawan yang fokus membuat konten sering kali mengabaikan norma seperti berpakaian tidak sesuai, berpose tidak pantas, atau mengganggu jalannya upacara adat.

Di beberapa destinasi populer seperti Bali, fenomena ini semakin sering terjadi. Tempat-tempat suci yang awalnya digunakan untuk ritual keagamaan kini juga menjadi spot viral di media sosial. Lonjakan wisatawan yang datang hanya untuk berburu konten membuat pengelola lokasi harus memperketat aturan kunjungan demi menjaga kesakralan tempat.

Selain dampak budaya, content hunting juga berdampak pada lingkungan fisik situs sakral. Banyak tempat mengalami kerusakan akibat terlalu banyak pengunjung yang tidak memahami batasan area.

Menginjak zona terlarang, menyentuh artefak, atau meninggalkan sampah demi mendapatkan angle foto yang diinginkan sering dilakukan para content creator. Hal ini dapat mempercepat degradasi situs bersejarah maupun area spiritual.

Sebagai respons, sejumlah daerah mulai menerapkan aturan ketat di tempat-tempat sakral. Edukasi kepada wisatawan mengenai etika berkunjung, pembatasan area foto, hingga kewajiban menggunakan pemandu lokal. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan destinasi tanpa menghilangkan daya tarik wisatanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....