Warisan Leluhur Bali dan Makna Menjaga Alam di Era Modern

  • 08 Mei 2026 07:31 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Bali dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena budaya masyarakatnya yang sejak lama hidup berdampingan dengan alam. Di tengah perkembangan zaman dan meningkatnya aktivitas manusia, warisan nilai leluhur tentang menjaga keseimbangan lingkungan kini kembali menjadi sorotan.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Kamis, 7 Mei 2026, membahas hubungan alam dan mitigasi bencana. Kepala Bidang Pemajuan Hukum Adat Provinsi Bali, IB. Rai Dwija menegaskan bahwa masyarakat Bali sejak dahulu telah memiliki konsep menjaga keharmonisan alam melalui kehidupan adat.“Keberadaan desa adat itu tidak terlepas dari konsep kasukertan, yaitu keseimbangan antara Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Ketiganya harus harmoni,” ujarnya.

Konsep tersebut sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali. Hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam diyakini harus berjalan seimbang agar kehidupan tetap harmonis.

Nilai menjaga alam juga diwariskan melalui berbagai aturan adat, pola tanam, hingga penggunaan bahan-bahan alami dalam upacara keagamaan. Namun di tengah modernisasi, sebagian nilai itu mulai perlahan memudar.

Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Provinsi Bali, Sang Putu Adi Sanjaya, S.Kom., M.A.P., mengatakan banyak masyarakat mulai melupakan warisan ekologis leluhur Bali yang sebenarnya memiliki makna penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.“Kita ini sebenarnya amnesia terhadap warisan adiluhung leluhur Bali,” jelasnya.

Menurutnya, berbagai fenomena alam seperti banjir, longsor, hingga pohon tumbang tidak selalu semata-mata dipandang sebagai bencana, tetapi juga bentuk alam yang sedang menyeimbangkan dirinya akibat perubahan lingkungan yang terjadi. “Yang kita sebut bencana itu sebenarnya alam sedang menyeimbangkan dirinya. Manusialah yang merasa dirugikan,” jelas Adi Sanjaya.

Perubahan gaya hidup masyarakat modern juga dinilai memengaruhi hubungan manusia dengan lingkungan. Semangat gotong royong yang dahulu kuat perlahan mulai berkurang dan tergantikan pola hidup yang lebih individual.

Meski demikian, desa adat dinilai masih memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai leluhur tetap hidup melalui awig-awig dan aturan adat yang mengatur hubungan manusia dengan alam.“Yang menjaga alam itu manusia. Kalau manusianya tidak menjaga palemahan, maka keseimbangan itu akan terganggu,” ujarnya

Di era modern saat ini, menjaga alam tidak lagi cukup hanya menjadi slogan. Warisan leluhur Bali mengajarkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari hal-hal sederhana, mulai dari menjaga pohon, merawat sumber air, hingga mempertahankan tradisi gotong royong.

Lebih dari sekadar peninggalan budaya, nilai-nilai tersebut kini menjadi pengingat bahwa masa depan Bali tidak hanya bergantung pada pembangunan, tetapi juga pada kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni dengan alam seperti yang diwariskan para leluhur sejak dahulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....