Koster Mulai Restorasi Kawasan Suci Besakih
- 02 Mei 2026 23:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Karangasem— Gubernur Bali, Wayan Koster, memulai tahap restorasi kawasan suci Parahyangan di Pura Agung Besakih, Jumat 01 Mei 2026. Proyek ini ditujukan untuk mengembalikan keaslian, keselarasan, dan nilai spiritual pusat peribadatan umat Hindu di Bali tersebut.
Restorasi ditandai dengan upacara Ngeruak/Mulang Dasar dan peletakan batu pertama tahap II penataan kawasan Parahyangan di Pura Banua, Besakih, Kecamatan Rendang. Momentum ini bertepatan dengan Rahina Purnama. Di hadapan undangan di Wantilan Kesari Warmadewa, Koster menegaskan bahwa proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya pemulihan menyeluruh kawasan suci sesuai pakem arsitektur Bali.
“Ini bukan pembangunan baru atau rehabilitasi biasa, melainkan restorasi untuk mengembalikan bentuk dan nilai aslinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penataan dilakukan karena selama ini kawasan Parahyangan dinilai belum tertata secara harmonis. Perbedaan material, warna, motif, hingga ukuran pada berbagai bangunan seperti kori, penyengker, dan palinggih menyebabkan tampilan kawasan tidak seragam.
“Secara keseluruhan belum mencerminkan keagungan kawasan suci, apalagi dengan latar Gunung Agung,” kata Koster.
Melalui proyek ini, sebanyak 30 titik suci akan ditata ulang, terdiri dari 26 pelinggih utama dan empat pura pasemetonan. Penataan dilakukan dengan prinsip mengembalikan arsitektur sesuai pakem Bali, menggunakan material seragam, serta penyelarasan ornamen.
Restorasi Parahyangan merupakan bagian dari tahap kedua penataan kawasan Besakih. Pada tahap pertama, pemerintah telah menata aspek palemahan, termasuk pembangunan fasilitas parkir, area pelayanan umat, dan kios pedagang.
Total anggaran penataan kawasan Besakih mencapai lebih dari Rp1 triliun. Tahap pertama menghabiskan sekitar Rp911 miliar, bersumber dari APBN dan APBD Provinsi Bali. Sementara tahap kedua dilaksanakan secara bertahap hingga 2026 dengan dukungan anggaran pemerintah daerah.
Koster menyebut, salah satu perubahan signifikan dari penataan sebelumnya adalah perbaikan sistem parkir dan akses masuk kawasan yang kini lebih tertata. “Dulu sangat padat, umat bahkan tidak bisa masuk dan harus sembahyang dari jalan. Sekarang sudah jauh lebih tertib,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa proyek ini harus dilaksanakan dengan pendekatan spiritual, bukan semata konstruksi. “Ini tempat suci. Harus dikerjakan dengan kesadaran dan doa, tidak bisa hanya mengejar keuntungan,” tegasnya.
Ke depan, pemerintah juga merencanakan tahap lanjutan berupa penataan akses jalan menuju Besakih dari berbagai arah, termasuk Bangli, Buleleng, Karangasem, dan Klungkung. Tahap ini dijadwalkan mulai perencanaan pada 2027 dan ditargetkan rampung pada 2029.
Koster menegaskan, restorasi Besakih tidak hanya penting bagi Bali, tetapi juga memiliki nilai bagi Indonesia dan dunia sebagai warisan spiritual dan budaya. Dengan target penyelesaian tahap kedua pada November 2026, penataan ini diharapkan mampu mengembalikan Pura Agung Besakih sebagai pusat spiritual yang tertata, harmonis, dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....