Makna Rerahinan Sebagai Media Komunikasi Suci Bagi umat Hindu

  • 02 Mei 2026 10:49 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Ahli Madya Agama Hindu Kementerian Agama ( Kemenag) Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana,S.Ag.,M.Si., menekankan pentingnya menjadikan momen Rerahinan, sebagai media multidimensional untuk meningkatkan komunikasi suci, melalui pelayanan tulus kepada Tuhan dan sesama. Pelaksanaan hari raya ini merupakan syarat mutlak dalam menjalankan dharma agama bagi umat Hindu di Bali, guna memantapkan hati dan mempertebal ketakwaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa 28 April 2026, Suana mengungkapkan rerahinan bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan sebuah bentuk komunikasi spiritual yang paling tepat, untuk menjembatani hubungan antara manusia dengan pencipta-Nya. Persiapan lahir bathin yang dilakukan jauh-jauh hari, mencerminkan ketenangan jiwa umat yang dilandasi oleh rasa bhakti mendalam, meski terkadang dihadapkan pada sulitnya memperoleh sarana upakara.

Suana menjelaskan esensi dari pelaksanaan hari suci ini, berakar kuat pada kitab suci Weda. "Rerahinan atau hari raya merupakan media pendekatan dan pelayanan yang multidimensional, dalam hal ini kita tidak hanya melayani Tuhan dan Dewa Pitara, tetapi juga sesama manusia serta alam lingkungan, guna mempertahankan eksistensi ritual yang bersumber pada ajaran suci Weda," ujar Suana.

Suana mengatakan keseimbangan antara nilai spiritual dan budaya material, menjadi kunci utama agar pelaksanaan hari raya tidak kehilangan inti sarinya di tengah gempuran modernisasi. Umat diharapkan mampu menjaga agar aspek luar atau kemegahan upacara, tidak sampai mengorbankan nilai-nilai filosofis, yang seharusnya membawa kedamaian dan keharmonisan bagi setiap individu.

Pemahaman yang mendalam terhadap nilai filosofis rerahinan akan menuntun perilaku, pikiran, dan perkataan umat, menjadi pengejawantahan dari keyakinan yang integral kepada Brahman. Jika keyakinan ini sudah meresap dalam diri, maka setiap tindakan yang dilakukan oleh umat manusia, akan selalu selaras dengan ajaran kebaikan dan moralitas agama yang tinggi.

Suana mengingatkan agar umat Hindu tetap fokus pada tujuan spiritual utama, dan tidak terjebak pada sifat keduniawian semata. "Kita harus mencegah pelaksanaan rerahinan yang hanya bersifat menduniawi, supaya tidak kehilangan intinya, sehingga seluruh kegiatan keagamaan yang kita lakukan, tetap memiliki nilai mulia untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Tuhan," tegas Suana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....