Eksistensi Kesenian Arja di Era Kekikian
- 21 Apr 2026 13:43 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah derasnya perkembangan seni pertunjukan di Bali , kesenian tradisional klasik seperti arja tetap menunjukkan eksistensinya hingga kini. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan zaman, arja masih mampu bertahan sebagai salah satu warisan budaya yang sarat nilai estetika dan filosofi.
Salah seorang seniman arja, I Wayan Suarta,S.Sn., M.Si. (57), yang juga ketua sanggar seni Mumbul sari Desa Keramas,Blahbatuh, Gianyar, mengatakan bahwa istilah arja berasal dari kata “Rja” berasal dari bahasa sansekerta berarti yang keindahan. Hal ini mencerminkan bahwa kesenian arja tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga mengandung unsur keindahan dalam setiap gerak, dialog, maupun alur ceritanya. "Arja itu bukan hanya hiburan, tetapi juga menyuguhkan nilai keindahan yang bisa dirasakan penonton dari keseluruhan pertunjukan,” ujarnya.
Ia juga mengatakan berdasarkan referensi yang dikutip dari salah seorang tokoh seniman Bali, Panji dalam bukunya menyebutkan bahwa kesenian arja diperkirakan mulai muncul pada tahun 1814 di Puri Klungkung. Sejak saat itu, arja berkembang sebagai seni pertunjukan yang mengadopsi dari pertunjukkan gambuh, yang dinamakan Arja dadab dimana batas antara penonton dan pregina diisi kayu dadab sebagai pembatas.
Seiring berjalannya waktu, arja kemudian berkembang menjadi kesenian rakyat yang lebih fleksibel dan mudah diterima oleh masyarakat luas. "Sejarah perkembangan arja itu diprediksi muncul sejak tahun 1914 pada saat itu raja Klungkung melaksanakan upacara pitra yadnya (ngaben) dari sanalah awal sejarahnya dan berkembang hingga saat ini ," imbuhnya.
Ia juga mengatakan kesenian arja, kini menghadapi tantangan di tengah perkembangan zaman. Dimana perubahan gaya pementasan menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari, seiring dengan masuknya unsur-unsur modern dalam seni pertunjukan arja yang notabene tergolong kesenian tua.
"Banyak yang bergeser dari bentuk pementasan saat ini, baik itu dari segi lakon dan bentuk bebanyolannya, tetapi itu tidak jadi masalah mengingat perkembangan zaman, yang terpenting sudah ada niat untuk melestarikan kesenian arja tersebut ," imbuhnya.
"Besar harapan saya selaku pelaku seni khususnya arja, agar kesenian arja ini tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya ," tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....