Tumpek Landep, Momentum untuk Mengendalikan Indria

  • 16 Apr 2026 07:53 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Kehidupan masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan hari-hari suci keagamaan yang menjadi landasan utama dalam aspek sosial, budaya, dan spiritual, yang merupakan tradisi diwariskan secara turun-temurun sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta menjaga keharmonisan hidup melalui konsep Tri Hita Karana.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar yang menghadirkan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupatan Badung, I Gusti Ngurah Putu Arya Sentosa, Kamis, 16 April 2026.

Menurut Arya Sentosa, pelaksanaan hari suci keagamaan di Bali terbagi dalam dua sistem penanggalan, yakni sistem sasih dan sistem wuku. Kedua sistem ini menjadi pedoman dalam menentukan berbagai hari suci yang sarat makna spiritual dan filosofi kehidupan.

"Salah satu hari suci dalam sistem wuku adalah Tumpek Landep yang dirayakan setiap 210 hari sekali pada Saniscara Kliwon Wuku Landep," ungkapnya. Ia menambahkan, hari suci ini secara harfiah bermakna “tajam” dan awalnya ditujukan untuk menyucikan senjata atau benda berbahan logam.

Namun secara filosofis, Tumpek Landep tidak hanya dimaknai sebagai penyucian benda tajam secara fisik. Lebih dari itu, hari suci ini mengajarkan pentingnya menajamkan pikiran, memperkuat budi pekerti, serta meningkatkan kesadaran spiritual manusia.

Dalam ajaran Hindu, Tumpek Landep juga merupakan momentum untuk mengendalikan indria dan menyeimbangkan antara dharma dan adharma. Dengan pikiran yang tajam dan jernih, manusia diharapkan mampu mengambil keputusan secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

"Di era modern, perayaan Tumpek Landep sering diidentikkan dengan upacara pada kendaraan dan alat teknologi," jelas Arya Sentosa. Ia meyebutkan bahwa esensi utamanya adalah bagaimana manusia mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Ritual yang dilakukan hendaknya berpusat di tempat suci sebagai bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Sang Hyang Pasupati. Setelah itu, barulah tirta yang diperoleh dipercikkan pada diri sendiri dan sarana penunjang kehidupan sebagai simbol keselamatan dan rasa syukur.

Rangkaian hari suci yang berdekatan dengan Tumpek Landep, seperti Saraswati, Banyu Pinaruh, Soma Ribek, dan Pagerwesi, memiliki keterkaitan makna yang mendalam. Rangkaian tersebut menggambarkan proses turunnya ilmu pengetahuan, penyucian diri, ungkapan syukur, perlindungan spiritual, hingga akhirnya penajaman pikiran.

Melalui rangkaian tersebut, umat Hindu diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan tanpa penyucian dapat menjadi kotor, tanpa perlindungan akan menjadi lemah, dan tanpa ketajaman pikiran akan kehilangan arah. Oleh karena itu, Tumpek Landep menjadi puncak refleksi untuk menata diri menuju kebijaksanaan.

Dengan memahami makna tersebut, perayaan Tumpek Landep diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas seremonial. Melainkan menjadi momentum untuk memperkuat dharma, menajamkan pikiran, dan mencapai kehidupan yang damai serta sejahtera.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....