Bermimpi Besar tanpa Terbentur Adat dan Budaya dalam Perspektif Hindu
- 13 Apr 2026 12:05 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, I Made Oka Megayasa, dalam program Surya Puja yang disiarkan di Pro 4 RRI Denpasar, Senin 13 April 2026, mengangkat tema tentang pentingnya bermimpi besar bagi generasi muda Bali. Ia menegaskan bahwa adat, budaya, dan agama Hindu bukanlah hambatan, melainkan fondasi kuat untuk meraih masa depan.
Dalam pemaparannya, Oka Megayasa menyebutkan bahwa perkembangan zaman dan teknologi membuka peluang luas bagi generasi muda untuk berkarya di tingkat global. Namun, masih banyak yang merasa ragu karena takut dianggap meninggalkan adat dan tradisi.
Ia menekankan bahwa dalam ajaran Hindu, manusia justru didorong untuk berkembang dan mencapai tujuan hidup. Hal ini tercermin dalam konsep Catur Purusa Artha yang meliputi Dharma, Artha, Kama, dan Moksha.
“Mencapai kesejahteraan dan mewujudkan keinginan merupakan bagian dari tujuan hidup yang sah, selama tetap berlandaskan Dharma”, jelas Oka Megayasa. Ia menegaskan, memiliki cita-cita besar tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Selain itu, setiap individu memiliki swadharma atau jalan hidup masing-masing sesuai bakat dan kemampuannya. Mengembangkan potensi diri menjadi karya besar dipandang sebagai bagian dari perjalanan spiritual.
Dalam konteks masyarakat Bali yang kental dengan adat, sering muncul anggapan bahwa adat menjadi pembatas gerak. Padahal, adat sejatinya bertujuan menjaga harmoni dan kebersamaan dalam kehidupan sosial.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menjelaskan bahwa adat dan budaya bersifat dinamis serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Hal ini terlihat dari penerapan teknologi dan fleksibilitas dalam pelaksanaan kegiatan adat di masyarakat.
Ia mencontohkan bahwa banyak orang Bali yang sukses di tingkat nasional maupun internasional tetap mampu menjaga identitas dan kontribusinya terhadap adat. Hal ini membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus mengorbankan budaya.
Dalam ajaran Hindu juga dikenal konsep Tri Kona yang mencerminkan siklus kehidupan, yakni lahir, berkembang, dan berubah. Perubahan dipandang sebagai hal alami yang justru menjaga keberlangsungan budaya.
“Tantangan terbesar dalam meraih mimpi seringkali datang dari tekanan sosial dan lingkungan sekitar,” ungkap Oka Megayasa. Ia menambahkan, oleh karena itu, penting untuk tetap berpegang pada prinsip karma yoga, yakni bekerja dengan tulus tanpa terpengaruh penilaian orang lain.
Ia juga mengingatkan bahwa keseimbangan antara kewajiban adat dan pengembangan diri dapat dicapai dengan komunikasi dan kontribusi yang sesuai kemampuan. Kehadiran tidak selalu harus secara fisik, namun dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk dukungan.
Generasi muda Bali saat ini dihadapkan pada persaingan global yang semakin ketat. Oleh karena itu, bermimpi besar bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar tidak tertinggal.
Kesuksesan individu justru dapat memperkuat adat dan budaya melalui kontribusi nyata bagi keluarga dan masyarakat. Semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin penting menjaga akar budaya dan spiritualitasnya.
Melalui siaran ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa mimpi besar adalah bagian dari dharma kehidupan. Adat, budaya, dan agama hendaknya menjadi kekuatan yang mendorong, bukan menghambat langkah menuju kemajuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....