Runtuhnya Watugunung Ajarkan Bahaya Kesombongan Bagi Manusia
- 07 Apr 2026 03:34 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Kisah runtuhnya Raja Watugunung menjadi simbol hancurnya kekuatan fisik dan kesaktian jika tidak dibarengi dengan pengendalian diri. Hal tersebut disampaikan langsung Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag., M.Si., ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 31 Maret 2026.
Suana menambahkan Kajeng Keliwon Pemelastali yang sering disebut sebagai "Watugunung Runtuh", mengandung pesan moral mendalam tentang bahaya kesombongan bagi umat manusia. Kajeng Keliwon pemelastali sebagai hari memperingati kekalahan Raja Watugunung yang sakti oleh Dewa Wisnu.
Raja Watugunung diceritakan kalah karena terjebak dalam keangkuhan dan ketidaktahuan akan jati dirinya, yang kemudian menjadi refleksi bagi umat Hindu untuk selalu rendah hati. "Peristiwa jatuhnya Raja Watugunung menjadi simbol nyata, bahwa kekuatan fisik dan kesaktian luar biasa tanpa pengendalian diri, hanya akan berujung pada kehancuran," tegas Suana.
Suana mengungkapkan pelajaran ini sangat relevan untuk masa kini, agar manusia tidak menyalahgunakan keahlian atau jabatan yang dimiliki, demi kepentingan ego yang bisa merugikan orang lain. "Kekalahan tersebut merupakan refleksi pengendalian diri, terhadap kekuatan negatif dan musuh dalam diri, yang seringkali membuat kita lupa akan etika kehidupan," ujar Suana.
Melalui momentum Watugunung Runtuh di hari kajeng Kliwon Pemelastali, Suana mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali setiap tindakan, dan berupaya menetralisir energi negatif menjadi kekuatan positif yang melindungi lingkungan. ️Mitologi ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pedoman bagi masyarakat Bali untuk terus melakukan evaluasi terhadap tindakan dan ucapan sehari-hari.
Suana menekankan dengan memahami sejarah Watugunung Runtuh, umat Hindu dapat lebih waspada terhadap munculnya bibit-bibit kesombongan, yang dapat merusak tatanan spiritual dan sosial. Kajeng Keliwon Pemelastali menjadi pengingat abadi, bahwa kecerdasan intelektual harus selalu selaras dengan kecerdasan spiritual, agar manusia tidak jatuh dalam lubang kegelapan yang sama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....