Generasi Muda dan Tantangan Memahami Makna Hari Suci
- 03 Apr 2026 11:17 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Ditengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, generasi muda di Bali dihadapkan pada tantangan baru dalam memahami makna hari-hari suci keagamaan. Tradisi yang selama ini dijalankan secara turun-temurun kini berhadapan dengan gaya hidup instan, digital, dan serba cepat.
Salah satu contohnya terlihat dalam peringatan hari-hari suci seperti Kajeng Kliwon Pemelastali hingga Saraswati. Tidak sedikit generasi muda yang menjalankan ritual sebatas kewajiban, tanpa memahami filosofi mendalam di baliknya. Padahal, nilai-nilai yang terkandung justru sangat relevan dengan kehidupan saat ini.
Penyuluh Agama Hindu dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag. ,M.Si dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 31 Maret 2026 menjelaskan bahwa hari suci tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian upacara, tetapi juga sebagai momentum untuk refleksi diri. Kajeng Kliwon Pemelastali, misalnya, mengajarkan pentingnya melepaskan ego, mengendalikan diri, serta membersihkan pikiran sebelum menerima ilmu pengetahuan dalam rangkaian Hari Raya Saraswati.
Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah distraksi dari teknologi dan media sosial. Informasi yang begitu cepat dan beragam sering kali membuat nilai-nilai spiritual terabaikan. Akibatnya, pemahaman terhadap makna hari suci menjadi semakin dangkal.
Di sisi lain, peran penyuluh agama dan media dinilai penting dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Penyampaian ajaran agama kini tidak lagi hanya dilakukan secara konvensional, tetapi juga melalui radio, televisi, hingga platform digital agar lebih mudah dijangkau oleh generasi muda.
Selain itu, pendekatan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari juga diperlukan. Nilai seperti pengendalian diri, keseimbangan hidup, dan kesadaran lingkungan yang diajarkan dalam berbagai hari suci sejatinya dapat diterapkan dalam konteks modern, mulai dari penggunaan teknologi yang bijak hingga menjaga hubungan sosial yang harmonis.
Meski tantangan semakin besar, harapan tetap ada. Dengan pendekatan yang tepat dan keterlibatan berbagai pihak, generasi muda diharapkan tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga mampu memahami dan menghayati makna di dalamnya.
Hari-hari suci pun tidak lagi sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan menjadi ruang pembelajaran untuk membentuk karakter yang lebih bijak dan seimbang di tengah kehidupan modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....