Makna Kajeng Kliwon Pemelastali dalam Kehidupan Modern
- 03 Apr 2026 11:01 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, masyarakat Bali kembali diingatkan pada makna mendalam dari Hari Suci Kajeng Kliwon Pemelastali. Tidak sekadar ritual keagamaan, momen ini menjadi ruang refleksi untuk melepaskan diri dari berbagai ikatan negatif, terutama ego yang kerap tanpa disadari menguasai diri manusia.
Penyuluh Agama Hindu dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag., M.Si dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 31 Maret 2026, menjelaskan bahwa Pemelastali memiliki arti “memisahkan” atau “melepaskan” ikatan-ikatan buruk dalam diri. Ikatan tersebut meliputi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak selaras dengan nilai dharma. Dalam konteks kehidupan modern, makna ini menjadi semakin relevan ketika manusia dihadapkan pada berbagai godaan, ambisi, dan tekanan sosial.
Menurut Gusti Putu Suana, ego menjadi salah satu sumber utama ketidakseimbangan dalam kehidupan. Keinginan yang berlebihan, sifat keras kepala, hingga dorongan untuk selalu menang sendiri dapat membawa dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Melalui Pemelastali, umat diajak untuk menetralkan ego tersebut dan kembali pada kesadaran diri.
Lebih jauh, Kajeng Kliwon Pemelastali juga berkaitan erat dengan rangkaian Hari Raya Saraswati yang melambangkan turunnya ilmu pengetahuan. Proses “pembersihan diri” ini menjadi langkah awal agar manusia siap menerima pengetahuan yang suci dan bijaksana. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak disalahgunakan, melainkan digunakan untuk kebaikan bersama.
Dalam praktiknya, nilai-nilai Pemelastali tidak hanya berhenti pada simbol atau upacara. Masyarakat diajak untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengendalikan emosi, berpikir lebih bijak, serta menjaga keseimbangan antara keinginan dan kemampuan. Hal ini menjadi penting di tengah gaya hidup modern yang sering kali mendorong sikap instan dan kompetitif.
Selain itu, ajaran ini juga memiliki kaitan dengan konsep pelestarian lingkungan atau yang dikenal dengan ekoteologi. Manusia tidak hanya dituntut untuk membersihkan diri secara spiritual, tetapi juga menjaga harmoni dengan alam. Lingkungan yang bersih dan seimbang diyakini sebagai cerminan dari pikiran dan perilaku manusia yang terkendali.
Melalui Kajeng Kliwon Pemelastali, masyarakat Bali diajak untuk sejenak berhenti dari hiruk pikuk kehidupan modern, melakukan introspeksi, dan memperbaiki diri. Nilai-nilai ini menjadi pengingat bahwa di tengah modernitas dan digitalisasi, keseimbangan batin dan kesadaran diri tetap menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan yang harmonis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....