Penenun Endek Bali Sulit Diregenerasi, Minat Generasi Muda Menurun

  • 31 Mar 2026 15:12 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Klungkung – Tradisi menenun kain endek dan cag-cag di Bali kian terancam akibat minimnya minat generasi muda untuk melanjutkan warisan budaya tersebut. Profesi penenun dinilai semakin ditinggalkan karena dianggap kuno dan kurang menarik dibandingkan pekerjaan modern.

Pemilik Pertenunan Astiti, I Nyoman Sudira, mengungkapkan kondisi tersebut saat ditemui, Sabtu 28 Maret 2026. Ia menyebut regenerasi penenun tradisional saat ini menjadi tantangan besar, terutama karena rendahnya ketertarikan anak muda.

Menurut Sudira, kondisi ini terlihat dari komposisi tenaga kerja di tempat usahanya yang didominasi penenun berusia di atas 40 tahun. Bahkan, untuk tenun cag-cag, kini hanya tersisa satu penenun yang usianya hampir mencapai 80 tahun.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menarik minat generasi muda, mulai dari pelatihan hingga pendampingan. Namun, hasilnya belum maksimal.

“Kami sudah memberikan pelatihan, tetapi setelah dilatih mereka berhenti. Mereka lebih tertarik pada pekerjaan lain yang dianggap lebih mudah. Kami tidak tahu apakah menenun ini dianggap kurang menarik atau bagaimana,” ujar Sudira, Selasa 31 Maret 2026.

Hal senada disampaikan penenun endek, Ni Wayan Sudiasih. Ia menyayangkan rendahnya minat generasi muda untuk belajar menenun, padahal keterampilan tersebut memiliki nilai budaya tinggi.

Menurutnya, proses menenun membutuhkan kesabaran dan ketelitian, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pemula. “Keponakan saya sempat ingin belajar, tetapi merasa sulit dan akhirnya tidak jadi,” ungkapnya.

Sudiasih berharap tradisi menenun endek dan cag-cag tetap dapat diregenerasi. Selain sebagai warisan budaya, menenun juga memiliki potensi sebagai sumber ekonomi bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....