Hutan Lestari Pertamina Pulihkan Alam, Dongkrak Ekonomi Warga
- 23 Mar 2026 09:18 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta – Program Hutan Lestari yang digagas PT Pertamina (Persero) tak hanya memulihkan kawasan hutan terdampak bencana, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah. Melalui pendekatan berbasis lingkungan dan ekonomi, program ini berhasil mengubah kawasan kritis menjadi sumber penghidupan baru bagi warga.
Di lereng Gunung Agung, Bali, tepatnya di kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih, upaya reforestasi pascaerupsi 2017 kini menunjukkan hasil nyata. Berlandaskan filosofi Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam—program ini mendorong masyarakat untuk menjaga lingkungan sekaligus memanfaatkannya secara berkelanjutan.
Tokoh lokal I Nyoman Artana menekankan pentingnya menjaga kawasan hulu sebagai penyangga ekosistem Bali. “Jika wilayah hulu tidak dijaga, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim,” ujarnya.
Dari upaya tersebut, kelompok binaan masyarakat kini mampu menghasilkan 100 hingga 150 kilogram madu per tahun, dengan nilai jual tinggi untuk madu kelanceng. Selain itu, kawasan tersebut juga berkembang menjadi destinasi wisata alam dengan pendapatan kelompok mencapai sekitar Rp120 juta per bulan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga setempat.
Dampak serupa juga terlihat di Ulubelu, Lampung. Melalui program Sekolah Hutan Lestari, kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) Margo Rukun berhasil bertransformasi dari aktivitas perusakan hutan menjadi pelaku budidaya berkelanjutan. Mereka menanam puluhan ribu pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) serta mengolah limbah kopi menjadi pupuk organik.
Hasilnya, kelompok ini mampu mencatatkan omzet hingga Rp2,2 miliar per tahun. Produk dan metode budidaya mereka bahkan telah diadopsi sejumlah perusahaan sebagai model rehabilitasi lahan.
| Baca juga: Tumpek dalam Hindu Selaras dengan Kehidupan |
Sementara itu, di pesisir selatan Jawa, tepatnya di Kampung Laut, Cilacap, inisiatif serupa dilakukan oleh Wahyono melalui rehabilitasi hutan mangrove. Kawasan yang sebelumnya rusak kini berubah menjadi pusat eduwisata berbasis lingkungan.
Melalui pembibitan mandiri, Wahyono mampu memproduksi hingga 800 ribu bibit mangrove per tahun. Upaya tersebut kini mendapat pengakuan, termasuk dari peneliti internasional, sebagai model pemulihan ekosistem pesisir.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan keberhasilan di berbagai daerah ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan kedaulatan pangan nasional.
Program Hutan Lestari sendiri telah menanam lebih dari delapan juta pohon produktif dan mangrove, serta memberdayakan masyarakat melalui integrasi reforestasi, penguatan ekonomi, dan edukasi lingkungan.
“Pertamina membuktikan bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan seiring dengan meningkatkan kemandirian masyarakat. Hutan tidak hanya dijaga, tetapi juga dirawat agar terus memberi manfaat,” ujar Baron.
Program ini juga berkontribusi pada pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam pengentasan kelaparan, konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta aksi terhadap perubahan iklim. Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam praktik bisnis berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....