Umat Hindu Jalani Rangkaian Ritual Suci Hari Nyepi
- 18 Mar 2026 18:39 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Umat Hindu khususnya di Bali melaksanakan tahapan suci hari raya Nyepi, yang meliputi upacara Melasti hingga Ngembak Geni,sebagaimana disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gianyar , I Ketut Wintenaya,S.Ag.,M.Pd.H. Rangkaian ini diawali dengan prosesi Melasti ke sumber air untuk menyucikan benda sakral (Pratima ) di Pura dan diri secara spiritual, sebelum memasuki inti perayaan hari suci Nyepi yang penuh dengan ketenangan.
Kehadiran masyarakat di sumber-sumber air ini merupakan bentuk pengabdian untuk menghilangkan segala kotoran spiritual, yang melekat pada diri manusia. "Prosesi Melasti dilakukan beberapa hari sebelum Nyepi ke laut atau Sungai, untuk memohon penyucian diri dan benda-benda sakral, yang akan digunakan dalam upacara Yadnya di Pura," ungkap Wintenaya dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa,17 Maret 2026.
Wintenaya menambahkan, setelah Melasti umat Hindu akan melaksanakan upacara Tawur Kesanga sehari sebelum Nyepi, yaitu pada Tilem Sasih Kesanga yang identik dengan ritual persembahan kepada Bhuta Kala, agar tidak mengganggu manusia. Pada momen ini, biasanya diadakan pawai ogoh-ogoh sebagai simbol pemusnahan kekuatan buruk atau negatif, yang kemudian diakhiri dengan pembakaran ogoh - ogoh tersebut di masing-masing desa.
Wintenaya menjelaskan bahwa, Upacara Tawur Kesanga dan pawai Ogoh-ogoh merupakan simbolisasi untuk menetralisir sifat-sifat buruk manusia, agar dunia kembali seimbang sebelum memasuki hari sunyi." Ritual ini sangat penting untuk memastikan bahwa transisi menuju tahun baru Saka, berjalan dengan bersih tanpa adanya gangguan energi negatif” ujar Wintenaya.
Puncak rangkaian adalah hari suci Nyepi itu sendiri, yang dalam hal ini suasana menjadi sangat tenang tanpa ada aktivitas di luar rumah, bahkan fasilitas publik seperti bandara pun ditutup. Seluruh prosesi kemudian diakhiri dengan hari Ngembak Geni yang menjadi momentum bagi setiap keluarga dan masyarakat untuk melaksanakan Dharma Shanti,saling mengunjungi dan saling memaafkan satu sama lain.
Wintenaya menegaskan penutupan rangkaian ini mencerminkan siklus pembersihan yang lengkap, mulai dari pembersihan alam semesta, pembersihan energi negatif, hingga pembersihan hubungan sosial antar sesama manusia. Rangkaian ritual yang tertata ini merupakan warisan luhur, yang memastikan setiap individu memulai tahun yang baru, dengan hati yang lapang dan jiwa yang murni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....