Nyepi dan Idul Fitri yang Berdekatan: Ujian Toleransi di Bali
- 12 Mar 2026 21:35 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini berdekatan dengan momentum ibadah umat Muslim menjelang Hari Raya Idul Fitri. Situasi tersebut menjadi tantangan sekaligus ujian bagi masyarakat Bali dalam menjaga nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Di tengah perbedaan keyakinan dan tradisi, masyarakat Bali telah lama dikenal mampu menjaga keharmonisan. Pelaksanaan Nyepi dengan Catur Brata Penyepian yang menuntut suasana hening selama 24 jam tetap dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas ibadah umat agama lain melalui semangat saling menghormati.
Kepala Bidang Pemajuan Hukum Adat, Dinas PMA Provinsi Bali, I.B. Rai Dwija Juliarta menjelaskan bahwa berbagai pihak telah melakukan koordinasi untuk menjaga kondusivitas masyarakat. Salah satunya melalui surat edaran yang dikeluarkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama majelis keagamaan di Bali.
Surat edaran tersebut bertujuan mengantisipasi kemungkinan berdekatan atau bahkan bersamaan antara pelaksanaan Nyepi dengan kegiatan ibadah umat Muslim, seperti salat tarawih menjelang Idul Fitri. Melalui edaran tersebut, seluruh pihak diimbau untuk menjaga suasana saling menghormati demi terciptanya kerukunan di tengah masyarakat.
“Pada prinsipnya, kita ingin menjaga kondusivitas Bali. Nyepi adalah kebutuhan alam dan tradisi masyarakat Bali, sementara umat agama lain juga menjalankan ibadahnya. Semua diharapkan bisa saling menghormati,” ujarnya dalam Acara Rahajeng Bali pada Kamis, 12 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa hubungan antarumat beragama di Bali selama ini telah terjalin dengan baik. Bahkan, situasi di mana perayaan keagamaan berbeda berlangsung dalam waktu yang hampir bersamaan bukanlah hal baru bagi masyarakat di Pulau Dewata.
Dalam pelaksanaan Nyepi, desa adat memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban melalui aturan adat atau awig-awig yang berlaku di masing-masing wilayah. Pecalang sebagai petugas keamanan adat turut memastikan masyarakat mematuhi aturan Catur Brata Penyepian.
Sementara itu, masyarakat dari berbagai latar belakang agama juga diharapkan ikut menjaga suasana hening Nyepi sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung turun-temurun di Bali.
Momentum berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri menjadi pengingat bahwa keberagaman tidak harus menjadi sumber perbedaan yang memisahkan. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat toleransi dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat Bali yang majemuk.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....