Umat Hindu Laksanakan Tradisi Meseselat jelang Tumpek Wayang

  • 11 Mar 2026 12:06 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Masyarakat Hindu di Bali melaksanakan ritual “Meseselat” menggunakan sarana pandan berduri sehari jelang hari suci Tumpek Wayang, sebagai bentuk perlindungan diri dari kekuatan negatif. Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gianyar , I Ketut Wintenaya,S.Ag.,M.Pd.H.,menegaskan bahwa tradisi ini dilakukan sehari sebelumnya, yakni pada hari Jumat Wage atau Kala Paksa, yang dipercaya sebagai titik puncak kekotoran dunia.

Ritual ini bertujuan untuk membentengi lingkungan rumah tangga dari gangguan kekuatan Panca Maha Butha yang sedang mendominasi alam semesta pada transisi waktu tersebut. "Sehari sebelum Tumpek Wayang, pada Jumat atau Sukra Wuku Wayang, umat Hindu melakukan ritual Meseselat yang melibatkan pemasangan pandan berduri di berbagai tempat di rumah seperti Sanggah dan Pelinggih” ujar Wintenaya dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 10 Maret 2026.

Wintenaya menambahkan secara teknis, daun pandan berduri yang telah diolesi kapur sirih dibentuk menjadi Tapak Dara atau tanda tambah, yang diletakkan pada ulu hati penghuni rumah dan pintu masuk bangunan utama. Penggunaan kapur sirih bukan tanpa alasan, karena secara simbolis kapur tersebut merupakan lambang kekuatan Dharma,yang mampu menetralisir sifat-sifat buruk atau adharma yang muncul.

Setelah dikumpulkan, sarana seselat dari daun pandan berduri tersebut, akan dibuang ke area “lebuh” disertai dengan persembahan segehan ireng, sebagai simbol mengembalikan kekuatan tersebut ke asalnya agar menjadi netral. "Seselat berfungsi sebagai pelindung dari kekuatan jahat, kemudian pada pagi hari Tumpek Wayang, seselat yang telah dipasang dikumpulkan kembali dan diletakkan di halaman luar sebagai simbol penyucian," jelas Wintenaya.

Prosesi ini juga melibatkan penggunaan benang Tridatu yang diikatkan pada sarana pandan, sebagai permohonan agar manusia dianugerahi kesucian, dalam tiga unsur kehidupan yaitu Bayu, Sabda, dan Idep. Penyatuan ketiga kekuatan ini,diharapkan mampu mengubah energi “Kala” yang bersifat merusak menjadi energi “Kala Hita” yang memberikan kesejahteraan bagi alam semesta beserta isinya.

Wintenaya mengingatkan agar masyarakat teliti dalam menempatkan seselat tersebut, pada titik-titik yang dianggap sacral, guna memastikan proteksi spiritual berjalan maksimal. Dengan menjalankan tradisi ini, umat Hindu diharapkan mendapatkan ketenangan batin dan perlindungan niskala, dalam menghadapi hari-hari transisi yang dianggap penuh dengan pengaruh energi negatif dari Bhatara Kala.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....