Sang Hyang Candra Lebur Kekotoran Batin Manusia

  • 07 Mar 2026 18:11 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Hari suci Purnama yang jatuh setiap malam bulan penuh, dipercaya oleh umat Hindu sebagai momentum pemujaan kepada Sang Hyang Candra, yang memiliki fungsi utama sebagai pelebur segala bentuk kekotoran batin atau mala. Penjelasan mengenai makna teologis ini dipaparkan secara rinci oleh Penhyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung,Ni Nengah Rasmiati, S.Ag., M.Pd.H.,dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 3 Maret 2026.

Rasmiati menjelaskan bahwa pada hari suci ini, Sang Hyang Candra beryoga, sehingga sudah seyogyanya seluruh umat menyucikan diri lahir batin, melalui persembahyangan dan menghaturkan yadnya ke hadapan Hyang Widhi. Berdasarkan kutipan naskah suci Sundarigama, hari Purnama dan Tilem memiliki nilai keutamaan yang sama tinggi, dalam penyelenggaraan upacara persembahyangan, bagi umat manusia sejak zaman dahulu kala.

Penyucian diri secara lahiriah hendaknya dilakukan dengan pembersihan badan menggunakan air, sementara penyucian batin dilakukan melalui puja bhakti yang khusyuk, guna memohon berkah serta karunia yang melimpah. “Kondisi bersih secara total ini menjadi syarat mutlak, karena kebahagiaan sejati dalam pemujaan hanya dapat terwujud apabila pikiran, perkataan, dan perbuatan seseorang telah berada dalam keadaan yang suci” ujar Rasmiati.

Rasmiati menambahkan tujuan utama dari ritual ini adalah maprebhawa Sang Hyang Candra, yang dalam hal ini cahaya suci-Nya diharapkan mampu menerangi kegelapan jiwa manusia agar kembali pada jalan Dharma.“Implementasi spiritual dapat dilakukan dengan membaca atau mendengar ajaran suci,serta memperbanyak rasa syukur atas segala anugerah yang telah diterima selama ini” jelas Rasmiati.

Rasmiati mengungkapkan penerapan nilai-nilai ini juga tertuang dalam tradisi Pupuh Sinom, yang mengingatkan umat untuk melakukan pembersihan diri atau mesiram, berpakaian bersih, hingga menghaturkan toya kekuluh di Merajan, dengan suasana hati yang hening. Menurutnya kesadaran untuk menjaga harmoni dalam keluarga dan lingkungan sekitar, menjadi cerminan dari keberhasilan seseorang,dalam melaksanakan prosesi penyucian diri pada hari suci bulan penuh tersebut.

Secara simbolik, bulan purnama melambangkan puncak kesadaran manusia yang harus dijaga, melalui pengendalian emosi berlebihan serta peningkatan rasa empati yang kuat, terhadap penderitaan sesama makhluk hidup. Dengan memahami esensi mendalam dari perayaan ini, umat Hindu diharapkan tidak hanya terjebak pada rutinitas seremonial saja, melainkan mampu mentransformasi diri menjadi pribadi yang lebih sabar dan bijaksana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....