Purnama di Era Modern: Spiritualitas dan Kesadaran Generasi Muda
- 05 Mar 2026 21:35 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Purnama Sasih Kesanga yang jatuh pada 3 Maret 2026 menjadi momentum refleksi bagi umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk kembali memahami makna hari suci yang datang setiap 29 hingga 30 hari sekali itu. Dalam acara Rahajeng Bali bersama Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, Ni Nengah Rusmiati, S.Ag., M.Pd.H, menyoroti fenomena sederhana namun penting, bahwa masih banyak anak muda yang belum memahami kapan Purnama berlangsung, apalagi maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Purnama bukan sekadar penanggalan dalam kalender Bali. Tanda titik merah yang menandai Purnama dan titik hitam untuk Tilem sering kali luput dari perhatian generasi muda. Padahal, melalui pengetahuan dasar itulah kesadaran spiritual dapat mulai dibangun. “Kalau tidak dikenalkan, mereka hanya mendengar kata Purnama tanpa benar-benar memahami maknanya,” jelas Nengah Rusmiati. Edukasi sederhana, seperti membaca kalender Bali, menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kedekatan dengan tradisi dan ajaran agama.
Secara filosofis, Purnama dimaknai sebagai simbol kesempurnaan dan kejernihan pikiran. Dalam sastra suci Sundari Gama, hari suci ini diyakini sebagai saat Sang Hyang Widhi beryoga dalam manifestasi Sang Hyang Chandra, memancarkan sinar suci yang memberi vibrasi kebaikan bagi alam semesta. Bulan yang bercahaya lembut dan menenangkan menjadi perlambang cinta, berbeda dengan matahari yang melambangkan kebenaran. Keduanya mengajarkan keseimbangan dalam hidup.
Di tengah tantangan era modern, cuaca ekstrem, penyakit musiman, hingga dinamika sosia. Purnama juga menjadi pengingat untuk selalu eling dan waspada. Sasih Kesanga yang identik dengan musim hujan dan potensi gangguan kesehatan, misalnya, dimaknai bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga ajakan untuk menjaga diri dan lingkungan. Spiritualitas tidak berhenti pada ritual, melainkan diwujudkan dalam sikap peduli, kehati-hatian, dan tanggung jawab.
Lebih jauh, Nengah Rusmiati menekankan bahwa pelaksanaan ibadah tidak harus mewah. Konsep Dharma Siddhyartha, yaitu Iksha (tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), dan Kala (waktu) menjadi pedoman agar umat menjalankan ajaran agama secara bijak dan tulus. Persembahan dapat disesuaikan dengan kemampuan, tanpa gengsi atau paksaan. Esensinya adalah ketulusan hati, bukan besar kecilnya upacara.
Bagi generasi muda, Purnama di era modern dapat dimaknai sebagai ruang untuk menata ulang diri di tengah kesibukan dan arus digitalisasi. Ketika layar gawai sering kali lebih menyita perhatian daripada kalender tradisional, momen bulan penuh ini mengajak untuk berhenti sejenak, merenung, dan menumbuhkan cinta kepada Tuhan, sesama, dan alam semesta. Dalam cahaya Purnama, spiritualitas tidak hanya diwariskan, tetapi juga disadari dan dihidupi kembali oleh generasi masa kini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....