Pernikahan Keluarga Satukan Menantu dan Mertua tanpa Sekat

  • 05 Mar 2026 10:25 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Membangun rumah tangga bukan hanya soal menyatukan dua individu, melainkan bagaimana meleburkan dua latar belakang keluarga, menjadi satu kesatuan yang utuh. Menurut Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag.,M.Pd.H., dalam tradisi pernikahan Hindu, fase ini disebut sebagai pernikahan keluarga, dengan demikian tidak ada lagi sekat pemisah antara orang tua kandung dan orang tua pasangan.

Nyoman Arya menjelaskan bahwa istilah menantu dan mertua, seharusnya melebur menjadi satu nama yang suci. Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah pernikahan, sangat bergantung pada kemampuan pasangan muda,untuk menerima keluarga besar pasangan, sebagaimana mereka menerima keluarga sendiri, tanpa adanya perbedaan perlakuan.

"Sebenarnya tidak ada lagi istilah mertua,karena kedua-duanya adalah orang tua kita yang harus dihormati dengan setara," ungkap Nyoman Arya dalam program Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 24 Februari 2026. Menurutnya, pemahaman ini sangat penting untuk mencegah terjadinya benturan ego yang sering muncul, saat pasangan baru mulai menetap di rumah orang tua.

Nyoman Arya menambahkan bahwa seringkali konflik muncul, karena menantu baru merasa paling benar dan ingin segera mengubah tatanan rumah tangga yang sudah lama berjalan. Hal ini dianggap berbahaya, karena bisa melukai perasaan orang tua yang sudah merawat dan mendidik anak mereka, sejak kecil hingga dewasa dengan penuh perjuangan.

Ia mengajak generasi muda untuk lebih mengedepankan seni penerimaan, daripada sekadar tuntutan personal. Belajar menjadi bagian dari keluarga besar memerlukan kerendahan hati, untuk memahami kebiasaan dan cara pandang orang tua,yang mungkin berbeda dengan keinginan pribadi.

Menurut Nyoman Arya penerimaan terhadap kekurangan dan kelebihan keluarga besar, merupakan fondasi utama agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga, meski tinggal dalam satu atap yang sama. Pernikahan keluarga yang sukses akan melahirkan kedamaian batin bagi pasangan, karena mereka mendapatkan dukungan penuh dari kedua belah pihak, tanpa adanya rasa kecurigaan.

Kedewasaan untuk belajar mengelola rumah tangga dengan bijak, akan menciptakan suasana hunian yang penuh dengan rasa kekeluargaan, dan kasih sayang yang tulus. Melalui penerapan nilai-nilai ini, diharapkan angka perselisihan dalam keluarga besar di Bali dapat diminimalisir demi terciptanya kebahagiaan yang langgeng, harmonis, dan suci.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....