Pentingnya Kesiapan Mental dan Finansial bagi Pasangan Muda
- 05 Mar 2026 10:18 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag.,M.Pd.H., ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 24 Februari 2026 menjelaskan bahwa kesadaran akan pentingnya persiapan finansial dan mental, sebelum memasuki jenjang pernikahan menjadi pesan utama bagi para Milenial dan Gen Z di Bali. Seringkali pasangan terjebak pada keinginan untuk tampil megah di media sosial, namun mengabaikan kondisi keuangan ,yang justru akan membebani kehidupan setelah menikah.
Ia mengingatkan bahwa esensi pernikahan adalah penyatuan jiwa yang berkelanjutan, bukan sekadar perlombaan pamer kemewahan dekorasi atau foto pre-wedding. "Jangan sampai kita terjebak pada prinsip just buy money di mana semua anggaran dihabiskan untuk satu hari momentum hingga tidak punya bekal setelahnya," ujar Nyoman Arya.
Nyoman Arya menegaskan bahwa pernikahan, harus didasarkan pada prinsip learning by doing yang realistis. Ia menyarankan agar pasangan lebih bijak dalam memilih paket pernikahan, yang sesuai dengan kemampuan ekonomi, tanpa harus memaksakan diri demi pujian semu.
Terkait fenomena foto pre-wedding yang saat ini menjadi tren, Nyoman Arya menilai bahwa hal tersebut boleh saja dilakukan, selama tujuan utamanya adalah penguatan ikatan batin. Namun, ia menyayangkan, jika kegiatan tersebut hanya mengutamakan personalisasi visual yang instagramable, tanpa adanya edukasi mengenai tanggung jawab berumah tangga.
Persiapan mental juga mencakup kesiapan tinggal bersama mertua, dan bagaimana beradaptasi dengan tatanan rumah tangga yang baru. “Seringkali gesekan terjadi, karena kurangnya rasa penerimaan dan ego yang terlalu tinggi, dalam mengubah kebiasaan lama yang sudah berjalan turun-temurun di keluarga pasangan” ungkap Nyoman Arya.
Nyoman Arya menjelaskan penggunaan logika dan rasa secara seimbang, menjadi kunci utama agar manajemen rumah tangga tidak berantakan di tengah jalan. Laki-laki dan perempuan memiliki porsi masing-masing, dalam mengelola keuangan dan emosi, sehingga komunikasi terbuka, mengenai penghasilan dan pengeluaran menjadi hal yang mutlak dilakukan.
Ia pun mengajak para calon mempelai, untuk lebih fokus pada inti upacara seperti mekalan-kalan dan mewidhi widana, yang memberikan penyucian energi. Dengan memprioritaskan yang wajib dan menyederhanakan yang bersifat tambahan, menurut Nyoman Arya pernikahan akan menjadi awal yang membahagiakan, bukan menjadi beban finansial yang menyengsarakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....