“Nyepi, Ogoh Ogoh,” dalam Balutan Tradisi dan Agama
- 04 Mar 2026 11:11 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Nyepi, Hari Raya yang sakral bagi Umat Hindu di Bali dan Ogoh Ogoh, parade Monster raksasa yang meriah. Dua Elemen yang mungkin terdengar kontradiktif, namun justru saling melengkapi dalam memperkaya tradisi dan spiritualitas masyarakat Bali.
Menurut Dr. I Nyoman Arya.S.Ag.M.Pd H dari Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar sepatutnya mulai kita memahami akan makna ogoh ogoh yang kaitannya dengan Hari Raya Nyepi sehingga tidak berhenti dalam tataran serimonial saja yang selalu menjadi perdebatan saat hajatan hari suci Nyepi yaitu “Ogoh Ogoh dalam Hindu itu merupakan Tradisi atau Agama?.
"Ogoh Ogoh adalah karya seni dalam kebudayaan Bali untuk membangkitkan semangat generasi muda. Kalau perkembangan ogoh ogoh di Bali mulai berkembang tahun 1980 berati jika dikatakan sebagai tradisi turun temurun bisa dikatakan masih baru karena sifatnya tradisi baru, apakah ogoh ogoh bisa dikatakan ajaran Agama ? Itu bisa dikatakan ajaran Agama Hindu jika digunakan dalam kegiatan spiritual dan diberi jiwa, makna dan bentuk akan peruntukan ogoh ogoh itu seperti pada pelaksanaan Upara Pitra Yadnya dalam arak arakan Bade pengusung mayat ada diiringi dengan ogoh –ogoh berbentuk cupak, " ungkap Nyoman Arya.
Namun dalam kaitannya dengan prosesi pelaksanaan perayaan hari suci Nyepi khusus dalam upacara pengerupukan sebagai wujud nyomia bhuta kala maka ogoh ogoh akan dibuat juga wajib menyerupai bhuta kala.
Karena begitu banyak nama bhuta kala sampai ribuan, maka bhuta kala apa saja yang mesti disomia dalam kaitannya dengan perayaan Nyepi ? Nah agar jelas memanggil dan menyomianya. Hal ini sebenarnya jika kita lebih mendalam menelisik akan bhuta kala yang ada pada hari seci nyepi sehingga dalam melaksanakan “Catur Brata Penyepian “ maka nama bhuta yang ada pada ogoh – ogoh mengikuti dari empat Brata yakni :
Amati Gni (tidak boleh berapi api ) Digoda oleh Kala Drambamoha
Amati Karya (tidak boleh bekerja ) digoda oleh Kala Wisaya
Amati Lelungaan (tidak bepergian ) digoda Kala Ngadang
Amati Lelanguan (tidak menghibur ) digoda oleh Sang Kala Katengkul.
Dr. Nyoman Arya,S.Ag.M.Pd,H juga menambahkan, Dalam melaksanakan ogoh –ogoh yang terkait dengan perayaan rangkaian Nyepi seharusnya mengambil nama nama bhuta kala tadi sehingga agama mampu memberikan makna. Disamping itu dalam proses pembuatannya sudah mengacu pada nilai – nilai suci agama yaitu Satwam (makna filosofinya jelas ), Siwam ( menganut nilai –nilai tanpa mengandung promo atau politis ) dan Sundaram ( memberikan rasa indah/sejuk ).
Lalu Bagaimana ogoh – ogoh itu diarak ? sepatutnya proses somia yaitu melalui pralina dengan tirtha pralina.Pralina dimaksud ada dengan cara membakar ada juga cukup dengan tirtha pralina artinya keduanya memiliki makna yang sama secara ritual. Namun kalau hal itu masih dianggap memiliki aura negative makan sebaiknya dibakar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....