Palebon Ida Rajadewata, Puri Agung Gianyar Digelar 7 Maret 2026

  • 03 Mar 2026 09:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Gianyar - Puri Agung Gianyar akan menggelar Karya Palebon Ida Rajadewata pada Sabtu, 7 Maret 2026, sebagai penghormatan terakhir bagi tokoh puri dan mantan Bupati Gianyar dua periode tersebut. Upacara tingkat Utamaning Utama dengan sarana Nagabanda ini dilaksanakan setelah Ida Rajadewata wafat pada Sabtu, 21 Februari 2026 pukul 13.30 WITA di RSUD Sanjiwani.

Upacara Palebon yang jatuh pada Saniscara Pon Ugu itu mengikuti tradisi Palebon Panglingsir Puri-puri keturunan Dalem. Prosesi puncak akan berlangsung di Setra Adat Beng, melibatkan pratisentana dari 16 puri keturunan Ida Bhatara Manggis Kuning serta desa adat di lingkungan Puri.

Tokoh Puri dan Mantan Bupati Dua Periode

Ida Rajadewata lahir dengan nama Anak Agung Gde Agung Bharata pada 23 Juni 1949. Setelah menjalani tahapan Dwijati pada 16 Juli 2019 di Puri Agung Gianyar, ia menyandang nama kawikuan Ida Bhagawan Blibar sebagai Bhiksuka.

Nama “Blibar” merujuk pada pucil buah manggis, menegaskan garis keturunannya sebagai pratisentana Ida Bhatara Manggis Kuning. Dalam sejarah, pendiri Kerajaan Gianyar tercatat sebagai Ida Bhatara Manggis Sakti IV pada 19 April 1771, yang menjadi tonggak berdirinya Kota Gianyar.

Semasa hidup, Ida Rajadewata dikenal sebagai putra dari Raja Gianyar terakhir, Ida Anak Agung Gde Oka (1946–1950), yang kemudian menjadi Bupati Gianyar pertama setelah bergabung ke NKRI serta Ketua Dewan Raja-Raja Bali.

Di bidang pendidikan, ia menamatkan SMA Negeri 2 Denpasar pada 1968 dan meraih gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Ngurah Rai, Denpasar, pada 2012. Karier pengabdiannya dimulai sebagai PNS di Sekretariat Negara RI (1977–1986), kemudian Koordinator Multimedia Sekretariat Negara RI (1986–1995), serta Pembantu Pelaksana Harian Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring (1997–2003).

Dalam bidang politik, ia menjabat Bupati Gianyar periode 2003–2008 dan kembali memimpin pada 2013–2018. Selama dua periode kepemimpinannya, ia dikenal konsisten menjaga keseimbangan antara pelestarian adat dan budaya dengan pembangunan daerah.

Rangkaian Upacara

Rangkaian Karya Palebon telah dimulai sejak 2 Maret 2026, ditandai dengan Mendak dan Melaspas Nagabanda. Sejumlah tahapan ritual seperti Nuasen Karya, Ngareka Kajang, Ngening/Nunas Toya Ning hingga Matetangi dilaksanakan bertahap hingga menjelang puncak upacara.

Pelaksanaan karya dikoordinasikan oleh Manggala Karya Anak Agung Gde Mayun bersama pratisentana dari sejumlah puri keturunan Ida Bhatara Manggis Kuning, di antaranya Puri Sukawati, Serongga, Bitra, Abianbase, Tulikup, Siangan, Beng, Kaleran (Sengguan), Batuan, Bedulu, Tegallalang, Wanayu, Batu Bulan, Lebih, dan Cebaang. Pada puncak acara 7 Maret 2026, prosesi diawali dengan Macaru dan Marisuda Bumi di Setra Adat Beng. Layon akan dijemput dari Bale Sumanggen dengan iringan Tari Gambuh Masatya menuju Padma tanpa menggunakan Bade Tumpang 11, mengingat ia telah menjalani proses madwijati.

Iring-iringan menuju setra melibatkan gambelan Angklung, pembawa upakara, Pedanda yang diusung gayot, Lembu Putih, penari Gambuh Masatya, Nagabanda, hingga Baleganjur. Desa Adat Samplangan, Abianbase, dan Bitra turut mengerahkan ratusan krama sebagai pengusung sarana upacara.

Sebelum prosesi perabuan, Pemerintah Kabupaten Gianyar akan menggelar upacara penghormatan. Setelahnya dilaksanakan rangkaian Nuduk Galih hingga Nganyut ke Pantai Masceti, dan ditutup dengan prosesi Mapegat di Puri Agung Gianyar.

Karya Palebon ini tidak hanya menjadi ritual pelepasan ragawi, tetapi juga momentum penghormatan atas pengabdian seorang pemimpin, sulinggih, dan tokoh masyarakat Gianyar yang mewariskan nilai dharma, adat, dan keteladanan. (Prawartaka Karya : Anak Agung Gde Mayun)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....