Ajaran Panca Widha Jadi Panduan Utama Pola Asuh

  • 02 Mar 2026 08:24 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Membentuk karakter anak menjadi sosok Suputra atau anak yang mulia, merupakan tanggung jawab besar yang harus dipahami calon orang tua bahkan sebelum menikah. Dalam ajaran Hindu Bali, konsep Panca Widha, merujuk pada lima jasa besar orang tua, mulai dari melahirkan (Sang Ametuaken) hingga memberikan pendidikan agama (Sang Mangupadhyaya).

Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, S.Pd.,dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, sebagai bekal bagi calon pengantin. Ia memaparkan bahwa orang tua juga berperan sebagai Sang Maweh Binojana atau pemberi makan, Sang Matulung Urip sebagai pelindung jiwa, serta Sang Anyangkaskara yang menyelenggarakan upacara penyucian.

Putu Sukma menekankan bahwa setiap tahapan usia anak, memerlukan pendekatan yang berbeda-beda, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang taat pada Catur Guru."Orang tua harus mampu menerapkan sikap fleksibel yang tertuang dalam Lontar Semara Reka, seperti kapan harus bersikap sejajar atau memberikan hukuman tepat waktu," ujar Putu Sukma.

Putu Sukma menjelaskan berdasarkan Nitisastra 3.18, anak usia dini harus dimanjakan seperti dewa, namun memasuki usia 6 hingga 15 tahun, orang tua wajib menanamkan disiplin melalui pendidikan. Strategi ini sangat penting untuk memastikan anak mendapatkan pahala, berupa Kirti atau kemasyhuran, dan Yasa yang berarti kebijaksanaan hidup di masa depan.

Penempatan posisi orang tua sebagai sahabat atau mitra dinilai sangat efektif untuk membimbing remaja agar memiliki budi pekerti luhur di tengah arus modernisasi."Memasuki usia 16 tahun ke atas, orang tua hendaknya memperlakukan anak sebagai mitra atau sahabat untuk menjaga kedekatan emosional," jelas Putu Sukma.

Putu Sukma menekankan dengan memahami seluruh rangkaian kewajiban ini, calon pasangan pengantin diharapkan tidak hanya siap secara ekonomi, tetapi juga siap secara ilmu pendidikan keluarga. Tujuan akhirnya adalah membangun pondasi keluarga yang harmonis, di mana nilai-nilai agama dan etika tetap menjadi napas utama, dalam setiap interaksi antara orang tua dan anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....