Konsisten Menjaga Warisan Lontar, I Wayan Turun Raih Bali Kerthi Nugraha Mahottama

  • 01 Mar 2026 21:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Pengabdian panjang menjaga warisan aksara dan sastra Bali mengantarkan I Wayan Turun menerima Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama dari Pemerintah Provinsi Bali. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Bali Wayan Koster dalam rangkaian peringatan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya (Art Centre), Denpasar, Sabtu 28 Februari 2026.

I Wayan Turun dikenal sebagai penekun lontar, penulis purana, dan babad yang konsisten berkarya sejak akhir 1970-an. Sekitar 1978–1979, pria kelahiran 1951 asal Desa Kesiman, Denpasar, ini mulai aktif menulis dan menyalin naskah lontar. Hingga kini, tak kurang dari 200 naskah telah dihasilkannya, meliputi kakawin, kidung, purana pura, hingga babad.

“Menulis lontar bukan hanya pekerjaan tangan, tetapi juga kerja batin,” ujarnya usai menerima penghargaan.

Selain menulis sastra klasik, Turun juga dikenal sebagai penulis prasasti. Ia mengerjakan sejumlah prasasti pura dan tanah adat, termasuk penulisan purana serta kajian aksara Bali klasik. Dalam prosesnya, ia tak hanya menggunakan aksara Bali modern, tetapi juga mendalami aksara Bali Kuna, Jawa Kuna, hingga Dewanagari untuk kepentingan penelitian dan penyusunan naskah.

Sejak 2008 hingga memasuki masa purnabakti sekitar 16 tahun kemudian, Turun tetap aktif berkarya dan membantu tugas-tugas di lingkungan dinas provinsi, khususnya yang berkaitan dengan penulisan purana dan pengembangan aksara Bali. Bahkan setelah pensiun, aktivitas menulis lontar tetap ia jalani. Menurut Turun, penulisan lontar saat ini menghadapi tantangan sekaligus peluang. Tantangan terbesar adalah regenerasi penulis dan pembaca aksara kuno.

“Sekarang membaca aksara Bali Kuna saja sudah jarang yang bisa. Kalau tidak diwariskan, bisa hilang,” katanya.

Meski demikian, ia melihat harapan melalui penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali serta meningkatnya perhatian terhadap dokumentasi dan penelitian naskah kuno. Baginya, lontar bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang memuat sejarah, tata kehidupan, hingga nilai spiritual masyarakat Bali.

Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama yang diterimanya menjadi penegasan atas konsistensi dan pengabdiannya menjaga literasi tradisional Bali. Atas anugerah tersebut, Turun berhak menerima uang pembinaan sebesar Rp100 juta dan pin emas seberat 25 gram.

Sejumlah karya yang telah dihasilkannya antara lain Geguritan Penataran, Kidung Kidalang Pricek, Geguritan Busana, dan Geguritan Bali Batur. Di usianya yang tak lagi muda, Turun tetap tekun menulis. Baginya, selama tangan masih mampu menggoreskan aksara di atas daun lontar, selama itu pula warisan leluhur akan terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....