Bulan Bahasa Bali Momentum Pelestarian Bahasa, Aksara, dan Sastra di Era Digital
- 28 Feb 2026 19:35 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Perayaan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 menjadi momen strategis untuk memperkuat pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali di tengah perkembangan teknologi. Pemerintah Provinsi Bali menilai pendekatan digital dan kreativitas generasi muda menjadi kunci agar warisan leluhur tetap relevan di era modern.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali Ida Bagus Alit Suryana menyatakan Bulan Bahasa Bali mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga sekaligus mengembangkan budaya Bali. Menurutnya, pelestarian tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.
“Niki sampun pinaka cihna iraga nyarengin ngawerdiang, ngelestariang budaya Bali. Pengembangan juga harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya di sela-sela workshop Lontar dan Aksara Bali di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali yang digelar PT Bali Turtle Island Development (BTID), Jumat 27 Februari 2026, sebagai rangkaian Bulan Bahasa Bali 2026.
Alit Suryana menilai generasi muda sangat kreatif dan inovatif, sehingga pelestarian budaya perlu masuk ke dunia yang mereka kuasai, termasuk dunia digital. Tahun ini, lomba Bulan Bahasa Bali digelar daring dan mendapat respons luar biasa dengan sekitar 1.200 peserta dari Bali, Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, hingga Sulawesi.
Cabang lomba yang digelar mencakup penulisan cerpen berbahasa Bali, desain poster berbahasa Bali, hingga film pendek mebase Bali. “Ketika dunia digital dimanfaatkan untuk pelestarian bahasa daerah, antusiasme anak muda sangat tinggi,” ujarnya.
Tema Bulan Bahasa Bali tahun ini adalah “Atma Kerti: Udyana Punaning Jiwa”, yang dimaknai sebagai taman untuk mengembangkan diri menuju kesempurnaan jiwa. Alit Suryana menegaskan, kesadaran kolektif bahwa Bahasa Bali adalah warisan adiluhung leluhur harus menjadi landasan pelestarian.
“Walaupun kita hidup di zaman teknologi maju, kita tidak bisa menciptakan bahasa seperti warisan leluhur. Kita punya Aksara Bali, punya sastra Bali. Itu luar biasa,” cetusnya.
Ia mendorong generasi muda tidak takut menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari dan memahami tingkatan bahasa atau sor singgih sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua. Pelaksanaan festival dan lomba di KEK Kura-Kura Bali diikuti sekitar 20 siswa SMP–SMA se-Kecamatan Denpasar Selatan dan 20 peserta dari kalangan umum.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....