Fasilitas Umum Bukan Pelengkap, tapi Penentu Hidup

  • 27 Feb 2026 10:47 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kita sering sadar pentingnya fasilitas umum justru saat ia tidak ada. Trotoar putus, halte tanpa atap, taman yang berubah jadi parkiran liar.

Padahal ruang publik adalah fondasi kota yang sehat. World Bank pernah menekankan bahwa infrastruktur dasar menentukan kualitas hidup dan produktivitas masyarakat.

Kota tanpa fasilitas umum yang layak bukan kota yang sibuk, tapi kota yang lelah. Transportasi publik misalnya, ia bukan sekadar alat pindah dari titik A ke B, tapi soal akses terhadap kerja, pendidikan, dan peluang. UN-Habitat menyebut mobilitas sebagai hak dasar dalam pembangunan kota berkelanjutan.

Ketika transportasi publik buruk, yang mahal bukan cuma ongkos, tapi waktu dan energi warganya. Dan waktu adalah sumber daya paling adil yang kita punya semua dapat 24 jam, tapi tidak semua bisa menggunakannya dengan setara.

Ruang terbuka hijau juga sering dianggap estetika tambahan. Padahal World Health Organization (WHO) mencatat bahwa akses ke ruang hijau berdampak langsung pada kesehatan mental dan fisik.

Taman kota bukan cuma tempat jogging atau foto sore hari. Ia ruang napas kolektif. Ketika kota kehilangan ruang hijau, stres jadi lebih mudah tumbuh daripada pohon.

Fasilitas umum juga menyangkut kesetaraan. Trotoar ramah difabel, toilet publik bersih, puskesmas terjangkau semua itu bukan kemewahan.

OECD pernah menyoroti bahwa kualitas layanan publik berkorelasi dengan tingkat kepercayaan warga terhadap pemerintah. Ketika fasilitas dasar saja tidak terpenuhi, wajar jika rasa percaya ikut runtuh.

Di Indonesia, diskusi soal fasilitas umum sering muncul setelah viral. Jalan rusak baru diperbaiki setelah ramai di media sosial. Halte nyaman jadi sorotan karena estetikanya, bukan fungsinya.

Kompas beberapa kali menulis bahwa pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada kebutuhan warga, bukan sekadar proyek fisik. Kota bukan panggung seremoni, tapi ruang hidup sehari-hari.

Transportasi publik yang aman mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, ini bukan teori kosong. Harvard Business Review pernah mengulas bagaimana desain kota memengaruhi kebiasaan dan produktivitas masyarakat. Infrastruktur membentuk budaya, bukan sebaliknya.

Pada akhirnya, fasilitas umum bukan pelengkap pembangunan. Kota yang serius membangun ruang publik sedang berinvestasi pada kualitas manusia di dalamnya dan kualitas manusia itulah yang menentukan masa depan kota itu sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....