OPD dan Penyiar Digembleng Workshop “Mababaosan Basa Bali”
- 26 Feb 2026 22:43 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Lebih dari 80 perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari kabupaten/kota dan Provinsi Bali, serta kalangan penyiar, mengikuti Kriyaloka (workshop) “Mababaosan Basa Bali” di Lantai Bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu 25 Februari 2026. Workshop ini menghadirkan narasumber Drs. I Gde Nala Antara dan dimoderatori Dr. Ni Wayan Sariani.
Selama sekitar empat jam, peserta dibekali teknik berbicara Bahasa Bali yang baik dan benar, serta berdiskusi mengenai kendala yang kerap muncul saat menggunakan bahasa daerah di ruang publik. Materi praktik meliputi cara membuka dan menutup rapat, menyambut tamu dalam upacara adat maupun keagamaan, hingga berbicara di rumah, banjar, dan kantor dengan memperhatikan anggah-ungguhing basa.
Workshop ini menjadi penting setelah Pemerintah Provinsi Bali mewajibkan penggunaan Bahasa Bali setiap hari Kamis, yang sempat membuat sebagian OPD enggan menggelar rapat karena belum percaya diri. “Workshop ini penting supaya mereka tidak takut mabasa Bali, termasuk saat memimpin rapat. Kami berikan strategi agar lebih percaya diri,” ujar Gde Nala Antara.
Ia menekankan bahwa tidak semua komunikasi harus menggunakan bahasa halus (kruna mider). Bahasa sehari-hari (basa andap) tetap dapat digunakan sesuai konteks, sementara anggah-ungguhing basa lebih diterapkan dalam rapat resmi, berbicara dengan sulinggih, atau tampil di depan umum. Beberapa kosakata, seperti “gulem”, “tembok”, dan “nyongkok”, memang tidak memiliki padanan halus, sehingga peserta sering merasa ragu.
“Kalau pun salah, itu wajar. Dari kesalahan kita belajar menuju yang benar. Kuncinya jangan takut salah,” tegas Gde Nala.
Dalam sesi praktik, peserta mencoba langsung membuka dan menutup rapat, menyambut tamu, dan menyampaikan sambutan pada upacara ngaben, otonan, maupun pernikahan. Meski beberapa masih ragu, sebagian peserta mulai berani tampil.
Gde Nala juga menekankan penguatan Bahasa Bali harus dimulai dari keluarga, kemudian diperluas ke lingkungan banjar, sekaa teruna, dan komunitas lainnya. Bahkan dalam kegiatan kreatif seperti pembuatan ogoh-ogoh, suasana kebahasaan Bali perlu dibangun tanpa selalu menggunakan bahasa halus.
“Basa Bali memiliki empat rasa bahasa: kasar, andap, madya, dan halus. Semua ada tempatnya,” jelasnya.
Dengan pemahaman strategi dan praktik yang diberikan, workshop ini diharapkan membuat OPD lebih percaya diri menggelar rapat pada hari Kamis, sekaligus memperkuat penggunaan Bahasa Bali di ruang formal dan publik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....