“Basur” Ungkap Dendam, Ilmu Hitam, dan Pesan Hormat pada Perempuan
- 24 Feb 2026 13:57 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Panggung Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, diselimuti nuansa magis saat Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) menampilkan drama Bali modern “Basur” pada Kamis 19 Februari 2026, malam. Lebih dari sekadar kisah klasik, pementasan ini menyuarakan pesan moral kuat: menghormati perempuan adalah kunci keharmonisan dan keselamatan sosial.
Drama ini mengisahkan dendam, asmara tak berbalas, dan ilmu hitam yang disalahgunakan oleh tokoh I Gede Basur untuk mencelakai Ni Sokasti. Konflik mistis pun meletup, memunculkan kehancuran yang menegaskan bahwa kesombongan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan akan berbalik merusak pelaku.
Pembina Teater Jineng sekaligus penulis naskah dan sutradara, I Gede Arum Gunawan (Jro Arum), menekankan relevansi lakon ini dengan kondisi sosial masa kini. “Cerita ini mencerminkan pentingnya pola asuh dan penghormatan terhadap ibu serta perempuan. Banyak persoalan sosial, termasuk kehancuran rumah tangga, berakar dari sikap tidak hormat terhadap perempuan,” ujarnya.
Pementasan juga menyoroti peran ibu dan pengasuhan berbasis sastra agama. Ni Sokasti dan Ni Rijasa, meski kehilangan figur ibu, tumbuh kuat berkat bimbingan ayah mereka.
Sebaliknya, I Tigaron dan Ni Garu yang tumbuh tanpa kasih sayang ibu, menghadapi rapuhnya mental dan karakter, hingga nasib tragis menimpa Basur sendiri. Secara simbolis, dua sosok sakral hadir di panggung: Bhatari Saraswati sebagai lambang keluhuran ilmu pengetahuan dan Bhatari Durga sebagai simbol kekuatan sekaligus penghancur.
Basur yang menyalahgunakan kesaktiannya dihukum melalui perantara Ni Garu, menegaskan pesan moral bahwa kesombongan dan ketidakadilan terhadap perempuan berujung pada kehancuran. Lakonnya bersumber dari Geguritan Basur dengan empat rujukan naskah klasik Bali, yang diadaptasi Jro Arum menjadi dialog dramatik komunikatif tanpa kehilangan ruh sastra aslinya.
Pementasan ini juga menampilkan perpaduan gamelan selonding dengan sentuhan musik modern—gitar bass, keyboard, dan musik digital—serta penghayatan para pemain yang sebagian besar memiliki dasar kemampuan matembang. Melibatkan 58 orang pendukung produksi, Basur menjadi bukti komitmen generasi muda dalam merawat dan mereinterpretasi sastra klasik Bali agar tetap relevan dengan dinamika zaman.
Di akhir pementasan, pesan moral tegas muncul: keteguhan nyastra dan iman menjadi pagar keselamatan, sementara kesombongan dan ketidakadilan terhadap perempuan hanya menuntun pada kehancuran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....