Teater “Jaratkaru” Tampilkan Tafsir Mitologi Bali Melalui Kritik Sosial

  • 24 Feb 2026 13:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Pementasan teater Bali modern “Jaratkaru: Lampan lan Utang sane Mekutang” sukses memikat penonton di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin 23 Februari 2026 malam. Garapan Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali ini menghadirkan tafsir segar mitologi Bali dengan balutan kritik sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Pertunjukan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII ini memadukan pendekatan teater modern dengan narasi reflektif tentang realitas sosial Bali kontemporer—mulai dari tekanan ekonomi, kemacetan, hingga dinamika generasi muda urban.

Istri Gubenur Bali, Ni Putu Putri Suastini Koster, hadir langsung menyaksikan pementasan dan memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para seniman muda Kawiya Bali. Ia menilai garapan tersebut menunjukkan kematangan konsep, idealisme, serta kemampuan teknis yang solid.

“Saya melihat konsepnya jelas, ada idealisme, kemampuan dan pengalaman yang dipadukan dengan baik. Kemampuan anak-anak luar biasa,” ujarnya.

Sebagai pegiat teater sejak era 1970-an, Putri Koster menilai kualitas olah tubuh dan olah vokal para aktor sudah sangat baik. Namun, ia memberikan catatan terkait harmonisasi dialog dengan iringan gamelan agar pesan pertunjukan dapat diterima penonton secara utuh.

“Nilainya 9,9. Yang perlu diperhatikan hanya keseimbangan antara vokal dan musik. Semangat gamelan tetap kuat, tetapi dialog harus tetap terdengar jelas,” katanya.

Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya etika dalam kebebasan berekspresi. Menurutnya, seni merupakan ruang sah untuk menyampaikan kritik sosial, namun tetap harus menjunjung kesantunan budaya.

“Seni boleh mengkritik, boleh menyampaikan protes sosial, tetapi tetap beretika. Kritik bisa tajam tanpa harus menyakiti,” tegasnya.

Sutradara pementasan, Agus Wiratama, menjelaskan bahwa tokoh Jaratkaru direinterpretasi sebagai metafora tentang “utang” manusia—tidak hanya kepada leluhur, tetapi juga terhadap tanggung jawab sosial dalam kehidupan modern. Mitologi diposisikan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin situasi Bali hari ini.

Keunikan pertunjukan semakin terasa ketika sejumlah wartawan tampil di sela adegan membacakan berita berbahasa Bali, menciptakan efek teatrikal yang membawa penonton masuk ke dalam realitas sosial yang dipentaskan.

Ketua Kawiya Bali, I Putu Suryadi, menyebut teater ini sebagai ruang refleksi sekaligus medium kritik sosial berbasis budaya. “Mitologi adalah resonansi. Ia hidup dan berbicara tentang kondisi kita hari ini,” ujarnya.

Pementasan tersebut juga mendapat apresiasi dari kalangan seniman dan akademisi, di antaranya Prof. I Wayan Dibia, Ketua Pramusti Bali I Gusti Ngurah Murthana (Rahman), serta penyanyi Trisna STE yang turut hadir menyaksikan pertunjukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....