Finalis Wimbakara Opini Bali Adu Gagasan di Taman Budaya
- 20 Feb 2026 11:19 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Keaslian tulisan dan ketajaman nalar menjadi sorotan utama dalam final Wimbakara Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali di Ruang Serasehan Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa 17 Februari 2026. Sepuluh finalis tak hanya diuji kualitas opininya di atas kertas, tetapi juga dipaksa membuktikan gagasan mereka secara lisan di hadapan dewan juri.
Dalam sesi presentasi dan tanya jawab, peserta harus menjawab setiap pertanyaan juri secara tegas dan lugas. Uji lisan ini menjadi instrumen penting untuk memastikan keaslian karya sekaligus mengukur sejauh mana penulis benar-benar memahami topik yang diangkat.
Dewan juri, Prof. Dr. Putu Sutama, MS., guru besar Program Studi Bahasa Bali Universitas Udayana, menegaskan bahwa sesi tanya jawab bukan untuk menakut-nakuti peserta, melainkan sebagai sarana evaluasi substansi dan integritas karya. “Kami mengecek apakah benar tulisan itu dibuat sendiri dan apakah ekspresi lisannya sejalan dengan isi tulisan. Jika tulisannya bagus, tetapi saat tampil Bahasa Balinya kacau, tentu patut diduga ada intervensi pihak lain,” ujarnya.
Menurutnya, menulis opini tidak cukup bermodal gagasan umum, tetapi harus dilandasi riset dan observasi objektif. Ia mencontohkan tema pelestarian bahasa yang kerap diangkat dengan judul provokatif seperti “Bahasa Bali Sudah Hampir Mati”.
Pernyataan semacam itu, kata dia, harus disertai data dan penjelasan yang rasional. “Kalau disebut hampir mati, di mana letak ‘matinya’? Di desa-desa Bahasa Bali masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. Generasi muda harus mampu menjelaskan berdasarkan pengamatan atau survei, bukan sekadar klaim,” tegasnya.
Dari 45 peserta yang mendaftar, sebanyak 32 orang mengumpulkan tulisan. Setelah melalui seleksi, dewan juri menetapkan 10 besar untuk memaparkan karya di hadapan juri. Tahap ini sekaligus menjadi mekanisme verifikasi bahwa karya tersebut benar-benar hasil pemikiran peserta sendiri.
Prof. Putu Sutama juga menyoroti masih adanya tulisan yang belum runtut dari judul, pembuka, isi, hingga penutup. Bahkan, ia menduga sebagian peserta memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) tanpa diimbangi pemahaman mendalam terhadap isi tulisan.
“Judulnya berbunga-bunga, tetapi data lemah dan terkesan menyalin. Namun demikian, kami tetap mengapresiasi karena mereka sudah mau menulis dan berani tampil,” katanya.
Melalui lomba ini, dewan juri berharap generasi muda tidak hanya mahir merangkai kata, tetapi juga memiliki ketelitian membaca teks, logika yang kuat, serta nalar rasional dalam menjaga dan mengembangkan Bahasa Bali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....