Sahur: Dari Perintah Agama hingga Tradisi di Nusantara
- 18 Feb 2026 13:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Menjelang bulan suci Ramadan, aktivitas Sahur kembali menjadi rutinitas utama umat Muslim di tanah air. Meskipun secara syariat sahur adalah anjuran ibadah untuk memperkuat fisik sebelum berpuasa, di Indonesia sahur telah bermetamorfosis menjadi tradisi komunal yang melibatkan kreativitas seni dan solidaritas sosial dari generasi ke generasi.
Secara etimologi, kata "Sahur" berasal dari bahasa Arab yang merujuk pada waktu sebelum fajar. Merujuk pada literatur sejarah Islam yang dihimpun oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, sahur awalnya diperintahkan sebagai pembeda antara puasa umat Islam dengan umat-umat sebelumnya.
Pada masa awal Islam di Jazirah Arab, sahur dilakukan dalam kesunyian. Namun, seiring masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-13, tradisi ini mulai beradaptasi dengan budaya gotong-royong masyarakat lokal yang sangat kental.
Berdasarkan catatan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), pada masa kolonial Hindia Belanda, tradisi membangunkan sahur sudah terdokumentasi di pemukiman-pemukiman padat. Mengingat pada masa itu belum ada alat komunikasi elektronik atau jam weker yang masif, masyarakat menggunakan alat musik perkusi tradisional.
Di Jawa Muncul tradisi Kotekan atau Thethetek, di mana pemuda desa berkeliling membawa kentongan kayu untuk membangunkan warga.
Di Sumatra Dikenal tradisi Dikee atau selawat yang dilantunkan dari surau-surau untuk menandakan waktu makan sahur telah tiba.
Fungsi sosial ini menjadi vital untuk memastikan tidak ada warga yang terlewat waktu bersantap karena kelelahan setelah bekerja di ladang atau perkebunan.
Memasuki era 1970-an hingga 90-an, penggunaan pengeras suara masjid mulai mendominasi suasana sahur. Pakar sosiologi dari Universitas Indonesia mencatat adanya pergeseran pola membangunkan sahur yang lebih terorganisir.
Anak-anak muda mulai memodifikasi musik sahur menggunakan barang bekas seperti kaleng biskuit dan galon air, yang kemudian dikenal dengan sebutan "Obrog" atau "Kotekan Sahur". Pada masa ini, sahur tidak lagi sekadar urusan makan, tetapi menjadi ajang kreativitas seni musik jalanan yang hanya ada setahun sekali.
Di tahun 2026, wajah sahur di Indonesia kembali berubah. Meskipun tradisi membangunkan sahur secara fisik masih ada di beberapa daerah, mayoritas masyarakat kini bergantung pada alarm gawai dan siaran televisi atau streaming digital sebagai teman bersantap.
Bahkan, muncul fenomena "Sahur On The Road" yang melibatkan komunitas otomotif atau gerakan sosial untuk berbagi makanan kepada tunawisma. Tradisi ini menunjukkan bahwa esensi sahur di Indonesia telah bergeser dari sekadar aktivitas personal menjadi media berbagi keberkahan bagi sesama di ruang publik.
Sejarah sahur di Indonesia adalah potret adaptasi sebuah ajaran agama ke dalam bingkai kebudayaan lokal. Dari bunyi kentongan kayu yang sederhana hingga alarm digital yang canggih, sahur tetap menjadi momen paling hangat yang merekatkan hubungan keluarga dan masyarakat di bawah langit dini hari Nusantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....