Tarian Sanghyang Jaran Gading Menginjak-nginjak Bara Api

  • 15 Feb 2026 20:02 WIB
  •  Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tari Sanghyang Jaran Gading dari Kecamatan Selat ditarikan dua orang laki-laki dewasa. Penari tersebut tanpa menggenakan baju hanya berbusana kain hitam mesitsit ginting (ujung kain terbalut kebelakang) dan saput poleng.

Sembari menaiki kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah daun enau dihiasi daun-daunan dan diiringi nyanyian suci, mereka dalam keadaan trance tanpa alas kaki berjingkrak-jingkrak menginjak-ngijak bara api serabut kelapa.

Selain memiliki Tari Sanghyang Jaran Gading , Kecamatan Selat juga mempunyai Tradisi Siat Pering. Kedua budaya tersebut merupakan tradisi yang berkembang di Subak Auman Tempek Susut dan Desa Pakraman Muncan, Kecamatan Selat.

Sanghyang Jaran Gading sebagai tradisi masyarakat agraris merupakan persembahan kepada Dewi Sri yang dilaksanakan melalui Upacara Aci Bhatara Sri pada Purnamaning Sasih Kedasa pada saat bulir padi mulai menguning menjelang panen. Dengan mempersembahkan Tarian Sanghyang Jaran Gading, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas berkat kesejahteraan dan harapan akan panen berlimpah.

Sementara Siat Pering dilaksanakan dalam rangkaian Usaba Pura Dalem di Desa Pakraman Muncan, sebagai simbolisasi penetralisir unsur-unsur negatif di wilayah desa pakraman. Siat Pering diperagakan oleh sepuluh orang laki-laki, Siat yang istilah nasional disebut dengan perang itu dilaksanakan sehari sebelum pelakasanaan Nyepi Desa. Warga desa yang laki-laki dewasa melakoni perang-perangan dengan menggunakan sarana bambu bercabang dan berdaun di Catus Pata Desa Pakraman Muncan.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....