Valentine dan Remaja Bali: antara Tren Global dan Nilai Lokal

  • 15 Feb 2026 11:40 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Setiap tanggal 14 Februari, linimasa media sosial remaja Bali dipenuhi warna merah muda, buket bunga, dan unggahan ucapan kasih sayang. Valentine telah menjadi bagian dari perayaan populer di kalangan anak muda, mengikuti tren global yang berkembang pesat melalui media digital.

Namun di balik euforia itu, terselip dinamika antara budaya global dan nilai-nilai lokal yang tetap dijunjung masyarakat Bali. Hal itu mengemuka dalam Program Rahajeng Bali pada Jumat, 13 Februari 2026, yang menghadirkan Komisioner KPAD Provinsi Bali, Ir. I Made Ariasa, M.Pd., Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati Ni Made Ayu Dwi Anggreni, serta perwakilan siswa.

Di sejumlah sekolah, perayaan Valentine tidak lagi sekadar soal cokelat, bunga dan kartu ucapan. Bagi sebagian remaja, momen ini menjadi cara untuk menunjukkan perhatian kepada teman, sahabat, bahkan keluarga.

Ada yang saling bertukar hadiah kecil, ada pula yang merayakannya secara sederhana dengan makan bersama setelah jam pelajaran usai. Meski demikian, tidak semua pihak memandang perayaan ini tanpa catatan.

Beberapa pendidik dan tokoh masyarakat mengingatkan pentingnya menyikapi Valentine secara bijak. Mereka menilai, pemaknaan kasih sayang tidak boleh bergeser menjadi tekanan sosial atau pembuktian cinta yang berlebihan.

Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati Ni Made Ayu Dwi Anggreni, menuturkan setiap tahun selalu ada diskusi di kelas mengenai batasan pergaulan sehat. “Remaja perlu memahami bahwa kasih sayang tidak identik dengan relasi romantis. Menghargai diri sendiri dan orang lain juga bagian dari cinta,” ujarnya.

Di sisi lain, nilai-nilai lokal Bali yang kental dengan ajaran tat twam asi, aku adalah kamu, kamu adalah aku sejatinya telah lama mengajarkan empati dan penghormatan terhadap sesama. Konsep kasih dalam budaya Bali tidak hanya ditujukan kepada pasangan, melainkan juga keluarga, sahabat, dan komunitas.

Bagi sebagian remaja, perayaan Valentine justru menjadi ruang kreatif untuk mengekspresikan diri tanpa meninggalkan identitas budaya. Ada yang memilih mengenakan busana bernuansa tradisional saat berkumpul bersama teman, ada pula yang mengisi momen tersebut dengan kegiatan sosial sederhana, seperti berbagi makanan kepada teman sekelas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa remaja Bali tidak sekadar menjadi konsumen budaya global. Mereka juga melakukan negosiasi makna, mengambil yang dianggap relevan, sekaligus menyesuaikannya dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan mereka.

Pada akhirnya, Valentine di Bali bukan semata soal mengikuti tren dunia. Lebih dari itu, ia menjadi cerminan bagaimana generasi muda menavigasi identitasnya di tengah arus globalisasi. Antara cokelat dan canang, antara unggahan media sosial dan nasihat orang tua, remaja Bali terus belajar menemukan keseimbangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....