Valentine Berujung Risiko Kasih Sayang yang Keliru

  • 15 Feb 2026 10:38 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Saat Hari Valentine, suasana di kalangan remaja biasanya dipenuhi antusiasme. Mawar dan cokelat menjadi simbol perhatian, sementara media sosial ramai dengan unggahan bernuansa kasih sayang.

Namun di balik perayaan tersebut, ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian, yaitu ketika pemahaman tentang cinta justru berujung pada risiko. Dalam program Rahajeng Bali pada Jumat, 13 Februari 2026, yang menghadirkan Komisioner KPAD Provinsi Bali, Ir. I Made Ariasa, M.Pd., Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati Ni Made Ayu Dwi Anggreni, serta perwakilan siswa terungkap bahwa sejumlah kasus remaja belakangan ini dipicu oleh relasi yang tidak sehat.

Ia menyoroti fenomena kehamilan usia sekolah, tekanan mental akibat penyebaran konten pribadi, hingga percobaan bunuh diri yang berawal dari persoalan asmara. “Kasih sayang sering dimaknai secara sempit, padahal maknanya sangat luas dan tidak terbatas pada hubungan lawan jenis,” ujar Made Ariasa.

Menurut Made Ariasa, perayaan Valentine yang hanya dipahami sebagai momen romantis dapat mendorong sebagian remaja bertindak tanpa pertimbangan matang. Keinginan untuk membuktikan cinta, mengikuti tren, atau sekadar tidak ingin dianggap ketinggalan, terkadang membuat batas-batas pribadi diabaikan.

Kasus yang mencuat di beberapa sekolah menjadi peringatan bahwa relasi tanpa pemahaman yang benar bisa berujung panjang. Tekanan dari teman sebaya, pengaruh media sosial, dan minimnya komunikasi dengan keluarga sering kali memperburuk situasi.

Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati, Ni Made Ayu Dwi Anggreni, menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini. Menurutnya, sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa menjadi kunci agar remaja memiliki ruang aman untuk berbicara dan mencari bantuan.

“Kita tidak menunggu sampai ada kasus. Pendekatan preventif harus dilakukan secara terus-menerus. Dari sudut pandang siswa, Valentine sejatinya bisa dimaknai lebih luas,” tegas Ayu Dwi.

I Gede Satya Putra Wiguna, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sukawati, menilai kasih sayang tidak harus diwujudkan dalam relasi eksklusif. Memberi perhatian kepada teman, keluarga, dan diri sendiri juga bagian dari perayaan yang sehat.

Hal senada disampaikan oleh perwakilan siswa lainnya, Ni Putu Aura Dian Pratiwi yang memandang Valentine sebagai momentum untuk menyampaikan apresiasi secara tulus, bukan ajang pembuktian cinta. Komisi Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bali melalui kampanye “Berlian” atau Bersama Melindungi Anak, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kesadaran bahwa perlindungan anak dimulai dari pemahaman yang benar.

Valentine, dalam konteks ini, bukan untuk dilarang, melainkan diarahkan agar tidak kehilangan makna. Kasih sayang yang sehat bukan tentang pembuktian sesaat, melainkan tentang tanggung jawab dan penghargaan terhadap masa depan.

Di tengah semarak mawar dan cokelat, pesan ini menjadi pengingat bahwa cinta tanpa pemahaman dapat berubah menjadi risiko yang tak terduga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....