Valentine Sehat: Bukan Soal Mawar dan Cokelat
- 15 Feb 2026 10:21 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Hari Valentine kerap identik dengan hadiah untuk pasangan dan unggahan romantis di media sosial. Namun, di balik euforia tersebut, ada pesan yang ingin ditegaskan, yaitu Valentine bukan sekadar soal mawar dan cokelat.
Hal itu mengemuka dalam Program Rahajeng Bali pada Jumat, 13 Februari 2026, yang menghadirkan Komisioner KPAD Provinsi Bali, Ir. I Made Ariasa, M.Pd., Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati Ni Made Ayu Dwi Anggreni, serta perwakilan siswa.
Menurut Ariasa, perayaan Valentine yang dipahami secara sempit berpotensi memunculkan persoalan di kalangan remaja. Ia menyoroti sejumlah kasus yang terjadi akibat relasi yang tidak sehat, mulai dari kehamilan usia sekolah hingga tekanan mental karena perundungan setelah persoalan asmara tersebar di media sosial.
“Kasih sayang itu maknanya sangat luas, bukan hanya kepada lawan jenis,” ujar Ariasa. Ia menegaskan bahwa pemahaman yang keliru tentang cinta bisa berujung pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Ariasa menjelaskan bahwa Komisi Perlindungan Anak Daerah Bali mendorong kampanye “Berlian” atau Bersama Melindungi Anak sebagai pengingat bahwa perlindungan terhadap generasi muda harus dimulai dari kesadaran diri. Valentine, menurutnya, bisa menjadi momentum untuk memperkuat empati, bukan sekadar mengikuti tren global.
Di lingkungan sekolah, pendekatan preventif juga terus digencarkan. Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati, Ni Made Ayu Dwi Anggreni, menuturkan bahwa pihak sekolah berupaya menciptakan ruang aman bagi siswa melalui kolaborasi dengan orang tua dan seluruh warga sekolah.
“Kami tidak menunggu kasus terjadi. Kami menjemput bola,” tegas Ayu Dwi. Sekolah rutin menyelipkan edukasi tentang makna kasih sayang yang positif, komunikasi sehat, serta pentingnya menjaga diri dalam setiap kegiatan pembinaan siswa.
Sementara itu, dari sudut pandang siswa, Valentine tetap bisa dirayakan secara sederhana dan bermakna. I Gede Satya Putra Wiguna, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sukawati, menilai bahwa hari kasih sayang tidak harus dimaknai secara eksklusif untuk pasangan. Memberi kartu ucapan kepada teman atau menunjukkan perhatian kepada keluarga juga menjadi bentuk perayaan yang sehat.
Senada dengan itu, Ni Putu Aura Dian Pratiwi, siswa lainnya, memandang Valentine sebagai kesempatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada orang-orang terdekat. “Tidak harus mahal. Yang penting tulus,” jelas Putu Aura.
Di tengah derasnya arus media sosial dan tren global, generasi muda diingatkan untuk tidak sekadar ikut-ikutan. Kasih sayang yang sehat bukan tentang pembuktian lewat hadiah, melainkan tentang empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Hari Valentine, pada akhirnya, bisa menjadi ruang pembelajaran. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang bagaimana menjaga batas, menghargai nilai diri, dan melindungi masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....