Filosofi Rare Angon Jadi Cermin Pemimpin Spiritual Hindu

  • 14 Feb 2026 15:29 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Pemimpin spiritual di Bali diharapkan mampu mengadopsi filosofi Rare Angon, dalam menjalankan perannya sebagai pengayom masyarakat di tengah dinamika zaman. Sosok ini diibaratkan sebagai penggembala, yang memiliki kendali penuh atas diri sendiri, sebelum mampu membimbing orang lain menuju harmoni kehidupan.

Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar , Dr. I Nyoman Arya,S.Ag.,M.Pd.H.,dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 27 Januari 2026.

Nyoman Arya menambahkan, seorang pemangku atau sulinggih, dituntut memiliki kebijaksanaan dalam menyeimbangkan berbagai sifat dasar manusia, yang sering muncul saat pelaksanaan ritual keagamaan. Tanpa kendali yang kuat, prosesi suci dikhawatirkan hanya menjadi rutinitas fisik, tanpa menyentuh aspek kedamaian batin bagi umat yang menjalaninya.

"Pemangku itu ibaratkan rare angon, rare angon itu senjatanya pecut pengembala membawa suling dan layangan. Suling melambangkan suara kebenaran yang menyejukkan, sementara layangan menjadi simbol cita-cita luhur, yang tetap terikat pada tali kendali etika” ujar Nyoman Arya.

Nyoman Arya mengungkapkan, dalam mengarahkan umat, pemimpin agama harus mampu mengelola dorongan sifat tamas atau kemalasan, rajas yang penuh ambisi, serta satwika yang melambangkan kebaikan. Keseimbangan ketiga sifat ini, sangat penting agar setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin, tidak memberatkan salah satu pihak namun tetap berpegang pada sastra agama.

Kekuatan seorang pemimpin spiritual bukan terletak pada otoritasnya, melainkan pada kemampuannya memberikan rasa aman dan ketenangan, bagi warga yang sedang menghadapi beban hidup. Pendekatan yang humanis dan penuh empati, akan membuat umat merasa lebih dekat dengan ajaran ketuhanan, melalui perantara tindakan nyata sang pemimpin.

Hal tersebut menurut Nyoman Arya sebagai bagian dari upaya pembangunan mentalitas pemimpin, yang berkualitas di era modern. “Dengan memahami filosofi penggembala, diharapkan para tokoh agama dapat menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi leluhur ,dengan realitas sosial yang terus berkembang setiap saat” tutup Nyoman Arya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....