Makna Hari Valentine dan Kasih Sayang Perspektif Bali

  • 13 Feb 2026 08:38 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar edisi Jumat 13 Februari 2026 mengangkat tema “Hari Valentine” bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer. Dalam perbincangan santai tersebut, keduanya membahas makna perayaan Hari Valentine yang jatuh setiap 14 Februari serta relevansinya dengan nilai-nilai kasih sayang dalam budaya Bali.

Ajik Tibah menjelaskan bahwa Hari Valentine secara umum dikenal sebagai hari untuk menunjukkan kasih sayang, yang identik dengan pemberian cokelat dan bunga mawar. Tradisi tersebut telah membudaya secara internasional dan dirayakan oleh berbagai kalangan sebagai momentum mengungkapkan perasaan kepada orang terkasih.

Namun dalam dialog tersebut ditegaskan bahwa masyarakat Bali sejatinya juga memiliki hari kasih sayang yang dikenal dalam tradisi Hindu Bali, yakni Tumpek Krulut. Hari suci ini dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Krulut dan dimaknai sebagai momentum memperkuat rasa asih (kasih), saling menyayangi, serta menumbuhkan keharmonisan dalam hubungan antarsesama.

Dalam perbincangan, Ajik Tibah dan Beli Kejoer juga membedakan antara “cinta” dan “sayang”. Disebutkan bahwa cinta kerap diartikan sebagai rasa ingin memiliki atau menguasai, sementara kasih sayang lebih menekankan pada memberi kebebasan dan kebahagiaan kepada orang yang dicintai.

“Kalau orang sayang, ia ingin orang yang disayanginya bahagia, bukan sekadar ingin memiliki,” ungkap Ajik Tibah. Ia mencontohkan dalam hubungan orang tua dan anak. Cinta tanpa dilandasi kasih sayang dapat berubah menjadi sikap posesif, sedangkan kasih sayang yang tulus memberi ruang bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya.

Keduanya sepakat bahwa ungkapan kasih sayang tidak seharusnya terbatas pada satu hari saja. Valentine dapat dijadikan momentum untuk menumbuhkan romantisme dan mengenang perjalanan kebersamaan, namun nilai kasih sayang idealnya diwujudkan setiap hari melalui sikap positif dan perhatian yang tulus.

Selain itu, perbincangan juga menyinggung simbol cokelat dalam perayaan Valentine. Selain sebagai lambang perhatian, cokelat disebut dapat memunculkan rasa nyaman dan bahagia karena kandungan tertentu yang memengaruhi suasana hati.

Melalui dialog yang ringan dan penuh canda, Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak pendengar untuk memaknai Hari Valentine secara lebih mendalam. Valentine bukan sekadar sebagai tren, tetapi sebagai pengingat pentingnya menumbuhkan rasa asih, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....