Usia 20-an Takut Menikah, antara Cinta dan Realita

  • 11 Feb 2026 20:59 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Di usia 20-an, ketika undangan pernikahan teman mulai berdatangan dan lini masa media sosial dipenuhi foto lamaran, tidak sedikit anak muda justru merasakan kegamangan. Alih-alih terburu-buru menuju pelaminan, sebagian dari mereka memilih bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar siap?

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Di balik romantisme pernikahan yang sering ditampilkan, ada realitas yang membuat generasi muda berpikir ulang. Data perceraian yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kisah kekerasan dalam rumah tangga, hingga persoalan ekonomi menjadi bayang-bayang yang sulit diabaikan.

Hal ini dibahas dalam Program Rahajeng Bali pada Selasa, 10 Februari 2026, bersama Penyuluh Agama Hindu Kemenag Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, S.Pd. “Cinta itu penting, tetapi cinta saja tidak cukup,” tegas Putu Sukma.

Menurutnya, banyak pasangan menikah hanya berbekal rasa, tanpa kesiapan mental dan kesepakatan peran yang jelas. Lima tahun pertama pernikahan sering menjadi fase paling menentukan, terutama ketika ujian ekonomi mulai datang.

Bagi sebagian Gen Z dan Milenial muda, ketakutan menikah bukan berarti anti-komitmen. Ada yang tumbuh dalam keluarga dengan konflik berkepanjangan, menyaksikan pertengkaran orang tua, bahkan mengalami pola asuh yang keras.

Trauma masa kecil yang belum pulih bisa berubah menjadi kekhawatiran akan mengulang pola yang sama. “Anak adalah peniru yang sangat baik,” jelas Putu Sukma.

Pola relasi yang dilihat sejak kecil kerap menjadi referensi dalam membangun hubungan di masa dewasa. Jika yang tertanam adalah kekerasan atau komunikasi yang buruk, maka ketakutan untuk membangun rumah tangga menjadi sesuatu yang wajar.

Di sisi lain, realita ekonomi juga menjadi pertimbangan yang besar. Kebutuhan hidup yang meningkat, tuntutan adat dan sosial, hingga ekspektasi keluarga membuat banyak anak muda merasa harus “mapan dulu” sebelum melangkah lebih jauh. Mapan bukan berarti kaya raya, melainkan memiliki arah dan kesiapan menghadapi tanggung jawab bersama.

Namun, di tengah ketakutan itu, harapan tetap ada. Pernikahan yang sehat bukan dibangun atas dasar euforia semata, melainkan kesepakatan, komunikasi, dan kesiapan berbagi peran.

Pernikahan adalah kerja sama dua individu yang sadar akan tanggung jawabnya, bukan sekadar pesta sehari. Ketakutan menikah di usia 20-an bisa jadi bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran.

Kesadaran bahwa membangun keluarga bukan hanya tentang bahagia hari ini, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi esok. Pada akhirnya, menikah bukan soal cepat atau lambat.

Terpenting adalah kesiapan hati dan pikiran untuk berjalan berdampingan, bukan hanya saat cinta terasa manis, tetapi juga ketika realita menuntut kedewasaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....